Kejam, Nenek dan Bibi Dihajar

 
MALANG – Air susu dibalas dengan air tuba. Ungkapan itu, setidaknya pas untuk Wijianto alias Gendam, 39, warga Desa Karangrejo, Kromengan.  Ia ditangkap polisi karena melakukan penganiayaan terhadap Wagirah, 54, serta Gini, 80. Akibatnya, sejak akhir pekan lalu ia harus meringkuk di balik sel Mapolsek Kromengan. 
Wagirah merupakan bibi tersangka, yang dulu sempat merawatnya ketika masih membujang. Sedangkan Gini, adalah nenek tersangka yang kini merawat anak tersangka dari istri pertamanya. Mereka berdua dipukul oleh tersangka dengan menggunakan batu bata merah.
“Empat buah batu bata merah yang digunakan memukul, sudah kami amankan di lokasi kejadian. Sedangkan tersangka kami tangkap di rumahnya, setelah ada laporan dari korban,” ungkap Kapolsek Kromengan, AKP Okta Panjaitan.
Aksi penganiayaan yang dilakukan tersangka ini, terjadi pada Jumat (27/4) sore lalu di dalam rumah korban. Waktu itu, Wagirah dan Gini sedang berada di rumah berdua. Mereka tinggal serumah yang jaraknya tidak jauh dengan rumah tersangka.
Ketika sedang bersantai, tiba-tiba datang tersangka langsung marah-marah. Sembari membawa batu bata, ia menghampiri Wagirah. Wanita berusia setengah abad itu, dipukul dengan tangan kosong serta menggunakan batu bata pada bagian wajah dan kepalanya.
Gini yang mendengar keributan, lantas keluar dari kamar. Namun belum sempat menanyakan apa-apa, Gini juga menjadi sasaran amukan tersangka. Ia dipukul dengan tangan kosong dan kepalanya dikepruk dengan batu bata, hingga mengakibatkan luka memar dan robek.
Usai menganiaya kedua korban, tersangka langsung pulang. Sementara, kedua korban yang tidak terima dengan penganiayaan itu, seketika melaporkan ke petugas Polsek Kromengan. Untuk menguatkan laporannya, kedua korban juga dimintakan visum.
“Selain melakukan penganiayaan, beberapa hari sebelumnya tersangka juga merusak rumah korban. Termasuk saat kejadian penganiayaan, ia juga sempat melakukan pengerusakan,” jelas Okta Panjaitan.
Dari hasil pemeriksaan, tersangka melakukan penganiataan karena sakit hati. Pasalnya, anak dari istri pertama yang kini dirawat oleh korban tidak pernah datang ke rumahnya. Tersangka menganggap kalau, anaknya dilarang oleh kedua korban.
“Ketika melakukan penganiayaan itu, kondisinya sadar tidak dalam kondisi mabuk. Tersangka melakukan penganiayaan karena mengaku sakit hati,” paparnya. (agp/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :