Bentrok Fisik Panaskan Unikama

 
MALANG – Konflik Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) kembali meruncing. Pagi hingga siang kemarin, suasana kampus memanas karena pertemuan massa dari dua kubu yayasan yang berseteru, yakni Soedja’i dan Christea Frisdiantara, di halaman kampus samping Jalan S Supriadi Kecamatan Sukun.
Dari keterangan yang dihimpun, pergolakan ini dimulai saat ada sekelompok massa yang datang ke kampus sekitar pukul 05.00. Kelompok itu lalu merangsek masuk ke dalam halaman depan kampus, serta menggoyang-goyang pagar. Tak lama, sekelompok orang lain datang dan menghentikan aksi perusakan pagar.
Suasana panas tak terhindarkan. Dua kelompok ini adu mulut, sebelum akhirnya ada seseorang yang tersulut emosi dan baku hantam. Aksi lempar botol, lempar batu serta adu pukul sempat terjadi.
Bahkan, seorang pria terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah itu, kelompok massa dari kubu Soedja’i berupaya masuk ke dalam gedung PPLP PT PGRI yang dikuasai kelompok massa Christea.
Akibatnya, ada seorang pria bernama Apriyanto, memecahkan kaca pintu depan. Aksi ini memicu amarah. Sehingga, Petugas Resmob Polres Makota mengamankan Apriyanto ke Polres Makota. Kapolsekta Sukun, Kompol Anang Tri Hananta membenarkan polisi mengamankan seorang pelaku yang memecahkan kaca depan gedung PPLP PT PGRI.
“Kami amankan pelaku, karena untuk membuat suasana kondusif,” tuturnya. 
Setelah aksi pemecahan dan pengamanan terhadap pelaku, perlahan iklim di kampus Unikama mereda sebelum massa membubarkan diri siang menjelang sore. Aksi kelompok massa Cristea yang menguasai gedung PPLP PT PGRI, terjadi karena disinyalir untuk menghentikan upaya pelaksanaan wisuda oleh kubu Soedja’i.
Waka PPLP PT PGRI versi Christea Frisdiantara, Slamet Riyadi menyayangkan sikap kubu Soedja’i dan Pieter Sahertian yang memaksakan menggelar wisuda pada 5 Mei 2018.
“Itu konyol karena bila wisuda dilakukan, Kemenristekdikti akan mencabut izin operasional Unikama,” jelas Slamet.
Sementara, kubu Soedja’i, yakni Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian menegaskan wisuda dilakukan untuk para mahasiswa yang sudah yudisium tanggal 25 Februari 2018. Pada tanggal itu, sanksi dari Kemenristekdikti belum keluar. Selain itu, Pieter juga menyebut sanksi Kementerian tidak pernah menyebutkan kampus Unikama, tidak boleh mewisuda mahasiswanya.
“Sanksi kita adalah penghentian bantuan hibah keuangan,  pelarangan pembukaan program, pelarangan penerimaan mahasiswa,  larangan pengajuan akreditasi. Tidak ada larangan wisuda. Lagipula, mereka sudah yudisium 23 Februari, sebelum sanksi kementerian turun,” ujar Pieter.
Menurutnya, jika mahasiswa yang sudah diyudisium tidak diwisuda, maka akan menimbulkan dampak yang lebih masif. Sehingga, wisuda akan tetap digelar 5 Mei 2018 mendatang.(fin/jon/mar) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :