Akibat Prilaku Menyimpang


Wanita adalah mahkota keindahan bagi rumah tangga. Bagi pria sebagai pemimpin dalam rumah tangga, harusnya mahkota dijaga dan ditempatkan di ruang yang terhormat dan penuh penghargaan. Tapi, apa yang dilakukan Ronald 43 tahun warga Kecamatan Klojen, sungguh bejat dan sakit.
Ronald, memaksa istrinya Amel 42 tahun seorang dosen salah kampus di kawasan Malang, untuk memenuhi hasrat anal seks atau sodomi. Ronald mengaku mendapat kepuasan dan kegembiraan karena menyodomi istrinya. Namun, Amel harus mengalami sakit demam selama tiga hari karena perlakuan dari Ronald.
Ronald pun tega merekam video istrinya sendiri saat melakukan aksi biadab itu. Saat bertengkar, Ronald mengancam menghancurkan karir Amel yang cemerlang di kampus dengan menyebarkan video tersebut. Ronald yang merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan produksi makanan hewan, juga memaksa Amel untuk mewujudkan fantasi seksual yang kebablasan.
Dia meminta bermain ranjang secara threesome dengan teman wanita Amel, walaupun akhirnya Amel menolak. Lebih parahnya lagi, Ronald pun mengajak Amel untuk terlibat dalam grup WhatsApp swinger yang baru saja digerebek oleh Polda Jatim beberapa minggu lalu. Dengan dalih cukup beribadah lalu dosa dihapus, Ronald berupaya merayu Amel untuk mengikuti grup swinger ini.
Hanya saja, rayuan Ronald tak berhasil. Cara Ronald yang meraih kepuasan seksual yang menyimpang dan sakit inilah, yang membuat Amel mantap hati berpisah dari pria yang dinikahi pada 6 Juli 1998 di KUA Klojen itu. Kendati diberi empat anak, Amel tetap memantapkan diri berpisah dari Ronald.
Apalagi, selain penyimpangan yang dilakukan mantan suaminya, Amel pun menderita karena pernah menjadi korban KDRT Ronald. Saat bertengkar, Ronald pernah meninju muka sehingga gigi atas depannya patah. Bibir Amel juga sobek, kedua mata lebam, hidung mengeluarkan darah.
Edannya, Ronald memukuli Amel yang mengandung 5 bulan. Terang saja, tak lama setelah peristiwa pemukulan terjadi, janin tersebut langsung keguguran. Mereka akhirnya berpisah ranjang pada 2017, dan diputus cerai oleh hakim Pengadilan Agama Malang pada tahun 2018 ini. Hakim ketua majelis H.A. Rif’an SH MHum, dengan anggota Drs Lukman Hadi SH MH dan Drs H Abdul Kholik MH, memutuskan mengabulkan gugatan Amel sebagian.
Dalam pokok perkara, hakim menerima gugatan cerai Amel. “Menyatakan perkawinan antara Penggugat dan Tergugat putus dengan thalak bain shughro. Menghukum tergugat membayar biaya hidup dan biaya pendidikan 4 orang anak, menolak gugatan penggugat selebihnya,” tutur hakim dalam sidang putusan.(fin/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :