Panggil Saksi dari Dinas Lingkungan Hidup


MALANG – Penyelidikan kasus limbah plastik CV. Jaya Makmur di Jalan Kauman, Pakisaji, yang dikeluhkan oleh warga terus berlanjut. Polres Malang, ngebut dengan memeriksa sejumlah saksi. Kemarin siang, polisi jemput bola dengan memeriksa saksi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang.
“Terkait masalah limbah itu, masih terus kami selidiki. Sekarang ini (kemarin, red) kami sedang meminta keterangan saksi dari LH (Lingkungan Hidup) dengan cara jemput bola,” ungkap Kanit Idik III Satreskrim Polres Malang, Ipda Afrizal Akbar Haris.
Sebelumnya, lanjut Rizal, pihaknya telah memeriksa beberapa saksi. Yakni saksi dari Dinas Pengairan, Dinas Perizinan serta Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar Kabupaten Malang. Hasil pemeriksaan dari Dinas Pengairan, memang tidak diperbolehkan aliran sungai yang masih diperuntukkan oleh warga, dimanfaatkan oleh pabrik untuk pembuangan limbah.
“Dari Dinas Pengairan, memang pembuangan limbah ke sungai tidak dibenarkan. Namun kami disarankan untuk memeriksa petugas dari Dinas Pengairan Provinsi yang memiliki kewenangan. Jadwal pemeriksaan untuk meminta keterangan Dinas Pangairan Provinsi Jatim, sudah kami jadwalkan,” terang Afrizal.
Sedangkan hasil pemeriksaan dari Disperindagsar serta Dinas Perizinan, dikatakan bahwa mereka semuanya menyatakan bahwa CV. Jaya Makmur sama sekali tidak memiliki izin pengolahan biji plastik.
“Dari Disperindagsar dan Dinas Perizinan, menyatakan bahwa izin usaha CV. Jaya Makmur tidak tercatat, atau tidak memiliki izin,” ujarnya.
“Setelah semua saksi telah kami mintai keterangan, secepatnya berkas perkaranya akan kami kirim ke Kejaksaan Negeri Kepanjen,” sambungnya sembari mengatakan bahwa pabril pengolahan biji plastik masih tetap dipolice line, karena proses penyelidikan belum tuntas.
Sekadar diketahui, keberadaan pabrik pengolahan biji plastik di Jalan Kauman, Pakisaji ini diprotes warga sekitar. Masyarakat selama ini resah karena limbah dari CV Jaya Makmur tersebut, baunya sangat menyengat dan polusinya mengganggu pernafasan. Warga berharap supaya perusahaan yang ada di tengah perkampungan itu segera ditutup.
Bahkan karena tidak tahan dengan bau limbah itu, beberapa warga sempat ada yang mengungsi ke rumah kerabatnya di Wagir, setiap malam hari. Sebab, bau limbah asap plastik tercium setelah habis maghrib sampai subuh.(agp/jon)

Berita Lainnya :

loading...