Warga Araya Polisikan PT KIS


MALANG - Tiga wanita mengadukan PT. Karya Indah Sukses (KIS) atas dugaan penipuan, Rabu (2/5) siang. Mereka mendatangi Satuan Reserse Kriminal Polres Malang Kota untuk melaporkan dugaan penipuan yang berbeda.  Kasus yang pertama mengenai pembelian bedak Pasar Blimbing, sedangkan kasus kedua terkait dugaan penipuan investasi tambang.
Para terduga korbannya PT KIS adalah Ratih Mustika Ningrum, 44 warga Perumahan Araya dan Ira Muskandi Dewi, 48 warga Pakis, Kabupaten Malang. Mereka mendatangi Polres Malang Kota didampingi oleh sang pengacara, yakni Fatimatuz Zahra, SH.
Kepada Malang Post, pengacara yang akrab disapa Zahra tersebut berniat melaporkan PT. KIS terkait dugaan penipuan. Namun, karena berkas tersebut kurang lengkap, ia akan segera kembali ke Polres Malang Kota.
“Rencananya besok (hari ini) kami akan melaporkan ke pihak kepolisian. Kami akan melengkapi beberapa berkas. Kami bertindak seperti ini karena tidak ada itikad baik dari PT KIS,” tegas dia.
Garis besarnya, Zahra menjelaskan, sekitar tahun 2015, Ratih melakukan pembelian dua bedak di Pasar Blimbing. Dua bedak tersebut adalah satu unit kios yang dijual seharga Rp 380 juta dan satu unit foodcourt yang dijual seharga Rp 680 juta.
“Kemudian, Ibu Ratih sudah menyetorkan uang sebesar Rp 100 juta. Ada beberapa transaksi yang masih tertinggal. Nanti kami akan cocokkan dengan bukti print out dari bank,” beber dia.
Perempuan berambut panjang tersebut menjelaskan, untuk mendapatkan kios yang sudah dibelinya tersebut, butuh waktu sekitar satu tahun. Perkiraan awal, tahun 2016 sudah bisa dibangun. Namun, hingga saat ini masih belum ada progress apapun.
“Ibu Ratih juga sudah berusaha melayangkan dua kali somasi tertulis untuk membatalkan pemesanan jual beli, namun tidak ada respons. Kemudian, Ibu Ratih mencoba telepon dan juga layangkan surat ke PT.KIS masih tidak ada tanggapan juga,” jelas dia.
Zahra menyebut, berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari pihak kepolisian, sudah ada 4 laporan dan 3 pengaduan terkait PT. KIS. Sehingga, jika ditambah dua orang kliennya tersebut, jumlah kasus yang menyangkut PT. KIS berjumlah sembilan.
“Atas informasi tersebut, klien kami akhirnya memutuskan untuk melaporkan hal ini ke polisi,” kata dia.
Sementara itu, untuk kliennya yang bernama Ira, pada tahun yang sama, Ira juga bekerjasama dengan PT.KIS untuk kepentingan investasi pengolahan hasil tambang. Lokasinya, di sekitar kawasan Sumbermanjing Wetan.
“Ketika itu, dia menjanjikan laba bisa didapat setelah empat kali produksi tambang, atau sekitar enam bulan, tapi ternyata tak kunjung diberikan,” beber dia.
Zahra melanjutkan, awalnya, Ira menyetor uang Rp 130 juta untuk memproduksi bahan tambang. Kemudian, ketika di tengah jalan, pihak PT. KIS meminta biaya tambahan dengan alasan ada kendala produksi. “Sehingga, total uang yang diberikan Ibu Ira berjumlah Rp 205 juta,” kata dia.
Setelah ditelusuri, ternyata lokasi yang dijanjikan tersebut fiktif. Sejauh ini, Ira mengaku tidak pernah ditunjukkan bukti izin terkait lokasi olah tambang tersebut.
Zahra menambahkan, sejauh ini, dokumen terkait bukti lelang investasi antara pihak Pemkot Malang dengan PT KIS masih belum ditemukan. “Sehingga, pihak kepolisian sedikit kesulitan untuk mengusut perkara ini,” kata dia.
Dengan adanya laporan ini, pihaknya berharap supaya bisa selesai dengan baik. “Kami berharap, segala bentuk investasi yang telah disetorkan oleh klien saya bisa diserahkan atau dikembalikan,” tegas dia.
Secara terpisah, Malang Post mencoba mengkonfirmasi pengacara PT KIS, yakni Ir. Abdul Salam, M.B.A, SH, M.Hum. Menurutnya, kasus Pasar Blimbing tersebut kuncinya adalah di Pemkot Malang. “Kebetulan saya baru masuk jadi bagian legalnya PT KIS. Saya sudah dengar masalah Pasar Blimbing itu. Tidak ada unsur penipuannya. Kami juga ingin segera bangun, hanya tinggal tunggu proses dari Pemkot,” tegas dia.
Menurut informasi yang ia dapat, hari ini (2/5), Sekretaris Daerah Kota Malang, Wasto mengadakan pertemuan untuk pembahasan addendum Pasar Blimbing. “Addendum tersebut harus segera diselesaikan oleh Pemkot. Sehingga, lokasi Pasar Blimbing kosong dan bisa segera dibangun. Kami juga didesak oleh pedagang untuk segera bangun. Kuncinya ada di Pemkot,” ujar dia.
Dia menjelaskan, sebetulnya, tidak ada unsur penipuan dalam pembelian bedak tersebut. Sejauh ini, PT KIS melakukan penjualan atas izin dari Pemkot. Namun, Pemkot menyerahkan pasar tersebut tidak dalam keadaan kosong. Sehingga, harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum dibangun yang baru. “Kami ingin bangun, kami juga sudah berusaha mendesak pemkot terkait hal ini,” kata dia.
Pihaknya mengaku juga sering didesak oleh para user untuk segera membangun. Sehingga, menurutnya, perlu ada pertemuan khusus antara PT KIS dengan pihak Pemkot untuk menyelesaikan soal ini. Sehingga, masyarakat yang sudah terlanjur memiliki investasi tidak merasa tertipu sehingga melapor ke pihak yang berwajib.
“Kalau ada yang melapor, apa yang dilaporkan. Kami menggunakan mekanisme PT dan menggunakan marketing untuk melakukan penawaran,” kata dia.
Salam menegaskan, terkait pembangunan Pasar Blimbing, pihaknya masih menunggu Pemkot Malang untuk segera bergerak. “Kami tinggal menunggu Pemkot untuk segera mengosongkan pasar,” kata dia.
Sementara, untuk laporan yang dilakukan Ira Muskandi Dewi, pihaknya mengaku tidak begitu paham. “Kalau soal yang satu itu, saya tidak begitu paham. Bagian saya hanya menyangkut masalah Pasar Blimbing saja,” tandas dia.(tea/ary)

Berita Lainnya :