Edarkan Ribuan Pil Koplo

 
MALANG - Meski Polres Malang maupun BNN Kabupaten Malang sering melakukan penangkapan terhadap pelaku peredaran narkotika, namun jaringan perdagangan barang haram ini terus tumbuh. Mereka seakan-akan tidak ada kapoknya meski banyak yang sudah masuk sel tahanan.
Bahkan, kemarin, Satuan Reskoba Polres Malang, menangkap empat budak narkotika, sekaligus. Tiga orang merupakan satu jaringan pengedar pil koplo jenis dobel L, satu lagi adalah pemakai sabu-sabu (SS).
Keempatnya adalah Aldo Arif Pradana alias Kelvin, 20, dan Gusti Ahmad Badawi, 20, warga Desa Jambangan, Kecamatan Dampit. Serta Dwianto, 30, warga Desa Talok, Kecamatan Turen. Ketiganya merupakan jaringan pengedar pil koplo jenis dobel L di wilayah Malang Selatan.
"Mereka satu jaringan. Masih ada pelaku lain yakni pemasoknya, yang kini masih dikembangkan oleh Satreskoba Polres Malang," terang Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Ahmad Taufik.
Penangkapan ketiganya dilakukan secara terpisah. Kali pertama yang ditangkap adalah Kevin dan Gusti. Mereka dibekuk di jalan raya wilayah Kecamatan Gondanglegi, sesaat setelah transaksi pil koplo. Barang buktinya satu kantong plastik berisi 1000 butir.
Keduanya mengaku mendapat pil koplo itu dari Dwianto. Sebungkus plastik dibelinya dengan harga Rp 700 ribu. Kemudian dijual lagi sebungkus sebesar Rp 800 ribu.
"Saya hanya mendapat keuntungan Rp 100 ribu saja. Biasanya pil koplo saya jual di wilayah Kecamatan Dampit dan Gondanglegi," ujar tersangka Kevin, yang dibenarkan oleh Gusti.
Dari pengakuan mereka, petugas lantas mengembangkan kasusnya dengan menangkap Dwianto di rumahnya. Barang bukti yang diamankan darinya sebanyak 16 ribu butir pil koplo. Dwianto mengedarkan pil koplo sejak setahun lalu.
"Pil koplo tersebut saya dapatkan dari teman di Mojokerto. Saya pesannya lewat telepon dan mentransfer uangnya, kemudian barangnya dikirim ke Malang," tutur tersangka Dwianto.
Sedangkan satu tersangka lagi adalah Gilang Rizki Abadi, 21, warga Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi. Ia pemakai narkotika jenis sabu-sabu (SS). Gilang diringkus di rumahnya usai membeli sabu. Barang buktinya sepoket SS dan seperangkat alat hisap.
Dalam keterangannya, Gilang mengaku sudah dua kali memakai sabu-sabu. Ia mendapatkan SS dari seorang temannya yang kini masih diburu. Sepoket dibeli dengan harga Rp 400 ribu.
"Saya bukan pengedar, hanya pemakai saja. Biasanya saya memakai dengan teman di rumah. Itupun hanya pahe (paket hemat) yang saya beli," ucap tersangka Gilang.
Akibat perbuatannya tersebut, menurut Ahmad Taufik, untuk ketiga pengedar pil koplo dijerat dengan pasal 196 sub pasal 197 Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Sedangkan untuk pemakai SS, dijerat dengan Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun kurungan penjara.(agp/jon)

Berita Lainnya :