Dua Remaja Putri Sumawe Dijual ke Papua


MALANG – Dua remaja perempuan di bawah umur, menjadi korban perdagangan manusia. Sebut saja nama mereka Debora dan Mita, yang berusia 15 tahun, asal Sumbermanjing Wetan, telah dijual oleh seseorang ke Papua untuk dijadikan Lady Companion (LC) alias purel di tempat karaoke.
Kasus ini terungkap setelah Polres Malang menerima pengaduan dari masyarakat. Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda membenarkan, Polres Malang menerima pengaduan tersebut, dan melakukan tindaklanjut berupa penyelidikan serta penjemputan terhadap dua korban perdagangan manusia itu.
“Benar, kita bertindak berdasarkan informasi warga, yang mengungkap ada dua remaja di bawah umur yang menjadi korban perdagangan manusia,” kata Adrian kepada wartawan kemarin.
Dari informasi yang masuk pada awal Mei 2018 ini, Polres Malang melakukan koordinasi dengan kantor kepolisian di wilayah Papua. Polisi berhasil melacak keberadaan dua remaja perempuan tersebut. Hari Minggu 6 Mei 2018 lalu, petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) menjemput kedua korban ke Papua. Hari Senin 7 Mei 2018 lalu, mereka berhasil pulang ke tanah Jawa dan kembali ke kampung halaman.
Dalam pemeriksaan, kedua korban tersebut menceritakan kisah pedihnya setelah ditipudaya oleh seseorang yang kini menjadi buruan Polres Malang. Menurut Adrian, kedua korban tidak tahu bahwa mereka akan dijadikan purel begitu sampai di Papua. Karena, pelaku human trafficking, menjanjikan keduanya untuk menjadi pelayan kafe.
Demi mendapatkan sesuap nasi di perantauan, keduanya menerima tawaran dari pelaku lalu berangkat menuju tanah Papua. Betapa kagetnya mereka, saat tiba di Papua. Bukannya menjadi pelayan kafe seperti yang dijanjikan pelaku, mereka malah dipaksa menjadi Lady Companion (LC) di sebuah karaoke.
Bahkan, keduanya diminta menjalankan pekerjaan untuk menemani para tamu yang mendatangi karaoke. Servis sebagai teman menyanyi pun diberikan. Namun, tak hanya servis biasa, mereka juga dipaksa secara psikologis maupun mental, untuk melayani perbuatan esek-esek para tamu yang ingin “membungkus” LC atau purel setelah puas bernyanyi.
Polisi saat ini tengah memburu pelaku yang diduga kuat melanggar undang-undang perlindungan anak dan UU nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Terkait siapa pelaku yang diduga menjadi broker atau makelar perdagangan manusia ini, polisi masih melakukan penyelidikan. “Masih lidik,” tutup Adrian singkat.(fin/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...