JPU Tuntut Arief 7 Tahun Penjara


MALANG - Ketua DPRD Kota Malang Periode 2014 – 2018, Moch Arief Wicaksono dituntut 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Hal ini terungkap dalam sidang tuntutannya di Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya, Selasa (8/5) .
Sesuai surat dakwaan yang sebelumnya dibacakan JPU KPK Kresno Anto Wibowo, Ikhsan Ferdandi Z, Roy Riady, Moch Takdir Suhan dan Agus Prasetya, dasar tuntutan tersebut dibuat berdasarkan fakta-fakta persidangan dan keterangan saksi-saksi.
Arief dalam kasus tersebut dianggap JPU telah menerima suap sebesar Rp 700 juta dari dari Kepala DPUPR Kota Malang tahun 2015 Jarot Edi Sulistyono dan Sekda Kota Malang pada saat itu yakni Cipto Wiyono untuk memuluskan pembahasan Perubahan APBD Kota Malang Tahun Anggaran (TA) 2015.
Uang Rp 700 juta itu pun dibagi dua bagian, yang satu bagian sebesar Rp 100 juta khusus untuk Arief Wicaksono sendiri. Kemudian bagian kedua sebesar Rp 600 juta dibagi-bagi untuk seluruh anggota dewan yang berjumlah 45 orang.
“Selanjutnya, terdakwa Arief Wicaksono membagikan uang sebesar Rp 600 juta kepada para Wakil Ketua dan Ketua Fraksi DPRD untuk diberikan kepada seluruh anggota DPRD yang berjumlah 45 orang, yang masing-masing untuk Wakil Ketua DPRD dan Ketua Fraksi sebesar Rp 15 juta, dan untuk masing-masing anggota sebesar Rp 12,5 juta,” papar salah satu JPU KPK.
Dalam beberapa fakta persidangan pun saksi-saksi yang dihadirkan membenarkan adanya pembagian uang tersebut. Salah satunya seperti yang dikatakan beberapa anggota dewan yang dihadirkan yakni Suprapto, Priyatmoko dan Subur Triono belum lama ini dalam sidang pemeriksaan saksi bagi Arief Wicaksono.
Maka dari itu JPU KPK menuntut terdakwa Arief Wicaksono sesuai apa yang diperbuat yakni 7 tahun penjara dengan denda sebesar Rp 200 juta.
Menanggapi hal ini Kuasa Hukum Arief Wicaksono, Andi Firasady SH MH menjelaskan bahwa kliennya akan segera menyiapkan pleidoi.
“Minggu depan akan pleidoi,” ungkapnya singkat kepada Malang Post.
Menurut kuasa hukum Arief ada beberapa fakta yang harus didengarkan majelis hakim terkait apa yang terjadi dan dilakukan Arief Wicaksono. Beberapa di antaranya adalah kliennya tidak datang dan meminta uang seperti yang sempat disampaikan salah satu saksi dalam persidangan yang menghadirkan seorang pengusaha bernama Eryk Armando Talla.
 “Saya tidak pernah menerima uang Rp 50 juta. Demi Tuhan” ungkapnya.
Ia pun sempat menegaskan jika dirinya pun tidak meminta dan menginisiasi permintaan uang suap kepada PT ENK seperti yang dikatakan saksi Subur Triono dalam persidangan saksi.
Hal-hal inilah yang akan menjadi bahan-bahan dalam sidang pembelaan atau pleidoi Arief minggu depan. Kuasa Hukum terdakwa Arief Wicaksono menegaskan jika minggu depan kliennya akan siap dan membacakan sendiri surat pleidoinya kepada majelis hakim.(ica/ary)

Berita Lainnya :

loading...