Peran Adik Kakak Gadingkasri Belum Jelas


MALANG –Ilham Nurali Majid 21 tahun dan Arif Rahman Hakim 23 tahun, adik kakak warga Jalan Gading Pesantren III Gadingkasri diciduk Densus 88 Anti Teror Kamis malam lalu. Meskipun keduanya ditangkap karena diduga terlibat jaringan teroris, sampai sekarang belum ada kejelasan apa peran dari adik kakak ini.
Kapolres Makota, AKBP Asfuri mengatakan tim Polres Makota yang berada di lokasi ketika penangkapan, hanya melakukan pengamanan. “Saat itu kita hanya pengamanan, penangkapan itu terkait JAD. Soal apa perannya, itu Polda Jatim yang bisa jelaskan,” terang Asfuri pendek, saat dikonfirmasi wartawan usai rilis di mako Polres Makota, siang kemarin.
Sementara, menurut Mualim, 60 tahun warga Jalan Gading Pesantren, yang juga famili dari kedua pemuda itu, hanya Ilham, sang adik yang pernah bekerja dan tinggal di Surabaya. “Kalau Arif tidak pernah, dia anak yang penurut dan polos. Kok rasanya tidak mungkin ya terlibat. Kalau Ilham, memang dia dua tahun terakhir tidak di Malang, mengakunya di Surabaya,” terang Mualim kepada wartawan.
Dalam pengakuan keluarganya, profil dan karakter dari adik kakak tersebut laksana siang dan malam. Ilham adalah sosok pendiam, dan cukup sering pergi ke luar kota, yaitu Surabaya dan sekitarnya. Tujuan Ilham pergi ke luar kota juga tidak jelas. Kadang dia mengaku berjualan cilok, ada kalanya dia mengaku berjualan roti maryam dan kebab.
Selain itu, Ilham juga memiliki kesan menjauh dari lingkungan. Dia jarang bersosialisasi serta tak terlibat dalam kegiatan pemuda kampung. Karena itulah, pihak keluarga juga mengaku bingung dan kurang memahami sosok Ilham. Sementara, hal berbanding terbalik terucap oleh mulut keluarga maupun tetangga saat menilai sosok Arif.
“Kalau Arif anaknya polos dan sederhana, dia gak pernah keluar kota dalam waktu lama, karena harus bekerja tiap hari sebagai cleaning service di kampus,” ujar Mualim.
Keluarga dan tetangga juga tahu Arif aktif berkumpul dengan anak-anak muda di kampung. Karena itulah, pihak keluarga menyebut Arif diyakini tak terlibat.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Frans Barung Mangera, secara normatif mengatakan penyidik memiliki waktu tiga hari untuk memeriksa orang-orang yang ditangkap.
“UU Teroris memberi waktu tiga kali 24 jam kepada penyidik untuk pemeriksaan dan keterlibatannya,” jelas Barung.
Dalam pemeriksaan, Barung menyebut penyidik dilengkapi dengan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Densus 88 Antiteror. Lewat bukti-bukti tersebut, polisi bakal menentukan apakah orang-orang yang ditangkap, benar memiliki keterlibatan dalam jaringan teroris. Ataukah nantinya Ilham dan Arif akan seperti kasus M Arifin dan Siti Rohaida, yang tak terbukti terlibat jaringan teroris manapun.
Dia juga menyebut penetapan status tersangka terorisme akan terbit bersamaan dengan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (Sprindik) kepada Kejaksaan. “Status baru ada ketika Sprindik dikirim ke kantor kejaksaan, itu baru dinyatakan tersangka. Kita akan memeriksa sesuai dengan barang bukti yang ada. Serta mematangkan penyidikan dengan memeriksa saksi lain,” tutupnya.

Berita Lainnya :

loading...