Pabrik Tahu Meledak, Satu Tewas dan Belasan Rumah Rusak

 
BATU - Industri rumahan pembuatan tahu di Jalan Raya Wukir, RT 1 RW 5, Dusun Putuk, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, meledak sekitar pukul 09.30 WIB Jumat (18/5). Akibat ledakan katel uap itu, satu orang korban meninggal dunia dan empat orang lainnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Hasta Brata, Kota Batu.
Korban meninggal dunia, Dedik Tri Widariyanto, 41, pemilik usaha. Sedang korban yang mengalami luka parah Enik Susana, 38, istri Dedik yang mengalami luka pada leher, Intan, 24,  tetanggnya yang tertimpa bangunan saat memasak di dapur.
Selain itu Zahra, 6, ponakan Dedik yang melepuh sekujur tubuhnya serta, Erina, 8, tangan kanan melepuh yang terkena air panas dari ledakan. Dari informasi yang dihimpun, kejadian tersebut berawal ketika Dedik kembali lagi beraktifitas memproduksi tahu bersama istrinya. Pasalnya, usahanya sempat libur memproduksi tahu selama satu minggu.
Menurut salah satu saksi mata, Diana Kurniawati, 41, yang bertempat tinggal sekitar 50 meter dari rumah korban mengatakan, saat terjadi ledakan, ia berada di dalam rumahnya Jalan Wukir nomor 3.
"Kalau tidak salah saat ledakan terjadi sekitar pukul 09.30 WIB. Itu saat saya berada di dalam rumah dan membuat kaget seiisi rumah. Awalnya saya kira letusan petasan. Tapi setelah keluar ternyata rumah Dedik," ujar Diana kepada Malang Post di lokasi kejadian.
Ia menjelaskan, setiap harinya Dedik bersama istrinya, Enik memproduksi tahu hanya berdua. Selain itu usaha tahu juga digelutinya masih berjalan tiga bulan yang lalu. 
"Usaha membuat tahu masih baru tiga bulan ini. Bakan kemarin sempat libur satu minggu dan baru saja beroperasi hari ini," paparnya.
Diana menambahkan, selama libur satu minggu itulah Didik terlihat sedang memperbaiki katel uap.
"Tapi tidak pernah diduga jika akan terjadi ledakan dan mengakibatkan korban," imbuh Enik.
Sementara itu, Sutomo, 76, yang merupakan martua Didik menceritakan jika saat kejadian ia sedang mencari rumput tidak jauh dari rumahnya. 
"Saat terjadi letusan saya kira suara petasan. Tak lama setelah letusan itu saya dikasih kabar jika rumah menantu saya yang meledak. Saat itulah saya langsung pulang dan tidak bisa melakukan apa-apa," ungkapanya.
Ia mengatakan, jika sebelumnya tidak ada sesuatu yang mengganjal.
"Kemarin-kemarin saya di rumah saja. Kok waktu keluar rumah ada hal yang tidak diinginkan. Padahal Didik bilang sebelumnya jika keinginan untuk buka usaha sendiri karena ingin berkembang," kenangnya. 
Sutomo juga menambahkan, sebelum membuka usaha sendiri di rumahnya, Didik telah bekerja sekitar 10 tahun di salah satu pabrik yang terletak di Kelurahan Temas. Dari kejaidan tersebut, selain korban meninggal dan luka, juga mengakibatkan dua rumah rusak berat.
Selain rumah milik Didik selaku korban, rumah milik Jumaidah yang berdekatan dengan rumah korban. Sedangkan rumah lainnya yang terdampak dikisaran 100 meter dari lokasi menyebabkan genting dan kaca rumah warga pecah.
Wali Kota Batu, Dra. Dewanti Rumpoko M.Si yang mendatangi TKP akan segera berkoordinasi dengan Diskoperindag untuk mengumpulkan pengusaha tahu agar tidak terulang kejadian tersebut.
"Dengan kejadian ini, kami akan segera melakukan evaluasi dengan Diskoperindag. Terutama dengan para pengusaha pabrik tahu untuk melakukan evaluasi kelayakan hingga pengoperasian dan sarpras. Pemkot juga akan memberikan santunan kepada korban serta menanggung semua biaya perawatannya," katanya. 
Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto S.Ik yang datang ke tempat lokasi kejadian masih menyelidiki ledakan tersebut. 
"Saat ini kami masih melakukan indentifikasi lebih lanjut oleh tim inavis Polres Batu. Dugaan sementara ledakan karena katel uap terlalu panas dan uap panas untuk memasak kedelai tidak disalurkan sempurna mengakibatkan ledakan," beber Buher, sapaan akrab Kapolres Batu kepada Malang Post.
Pihaknya juga menjelaskan, jika sudah dua kali ini terjadi ledakan katel industri rumahan di Kota Batu. Sebelumnya terjadi di Desa Beji, Kecamatan Bumiaji pada tahun 2017. 
"Dengan adanya kejadian ini, kami himbau kepada pelaku usaha, khususnya pembuatan tahu dan tempe agar menggunakan sarana produksi yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, sebelum membuka usaha juga harus ada edukasi terlebih dahulu agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan," paparnya. (eri/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :