KPK Amankan Dokumen dari Barenlitbang dan ULP


MALANG – Perjalanan KPK di Kota Malang belum berakhir. Penggeledahan di sejumlah tempat terus dilakukan. Kemarin, KPK menggeledah Kantor Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang)  Kota Malang dan Kantor Unit Layanan Pengadaan Kota Malang.  Kantor Barenlitbang digeledah mulai pukul 10.00.
Saat penggeledahan dilakukan, Kepala Barenlitbang, Erik Setyo Santoso sedang tidak berada di tempat. Dia baru datang pukul 12.35. Pria yang juga mejabat sebagai Plt Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Malang ini sempat bingung lantaran pintu masuk menuju kantornya ditutup.
Erik sempat mendekati pintu, kemudian direspon oleh anggota polisi yang berjaga. Tidak lama kemudian pintu kembali ditutup dari dalam. Erik kembali menunggu di luar. Dia baru bisa masuk, setelah ada anggota KPK menjemputnya di pintu.
Saat menunggu di luar, Erik terlihat cukup tegang. Bahkan, saat dimintai keterangan wartawan, Erik beberapa kali harus berpindah tempat, dan berusaha menghindar. ”Saya belum tahu. Saya ini tadi dari Surabaya, untuk konsultasi terkait pembahasan anggaran ke Pemprov Jatim, pasca mundurnya ketua dewan  (Arief Wicaksono) kemarin (Kamis),’’ katanya sebelum masuk ruangan.
Dia tidak sendirian ke Surabaya, tapi bersama dengan beberapa anggota DPRD dan pegawai BPKAD. ”Tadi berangkat usai subuh,’’ katanya singkat, sembari matanya terus melihat ke pintu kantornya.
Erik mengatakan, penting melakukan konsultasi ke Provinsi, mengingat saat ini sedang ada pembahasan Perubahan APBD tahun anggaran 2017.  ”Kami konsultasi ke Pemprov untuk minta petunjuk. Karena harapannya, pembahasan ini kan tetap berjalan,’’ ucap Erik, yang mengaku dia buru-buru pulang ke Malang  setelah dikabari oleh salah satu stafnya tentang penggeledahan.
”Konsultasi belum selesai, saya tinggal. Dikabari ada (penggeledahan) ini, saya pulang untuk menemani dan menyaksikan,’’ katanya.
Untuk hasil konsultasi, Erik mengatakan menunggu anggota dewan. Dia juga mengatakan nanti hasil konsultasi itu akan dipublish oleh anggota DPRD.  Sementara tim penyidik KPK kemarin menggeledah berbagai ruangan. Tidak hanya di lantai satu, namun juga di lantai dua.
Tim KPK baru keluar kantor Barenlitbang pukul 14.45 dengan membawa empat koper dan beberapa kardus berisi dokumen.  Sementara Erik Setyo Santoso  yang dikonfirmasi usai penggeledahan mengatakan, anggota KPK melakukan pemeriksaan sejumlah dokumen yang memuat proses penganggaran, termasuk  tahapannya, mulai dari rancangan sampai dengan induk.. ”Saya lupa tahun berapa itu ya. Wes  yo rek aku tak nyambut gawe,’’ katanya saat Malang Post menanyakan dokumen dari tahun berapa.
Saat terus didesak, Erik hanya tersenyum. Sia lalu menjawab, begitu wartawan menyebut tahun 2015 dan 2016. ”Ya ya, ya (tahun) itu,’’ katanya singkat.
Menurut Erik, petugas KPK tidak melakuan pemeriksan terhadap para pegawai ataupun kepada dirinya, mereka hanya memeriksa berkas-berkas saja.
Tentang berkas apa saja yang diamankan KPK, Erik juga enggan menyebutkannya. Yang pasti menurut dia, Barenlitbang sangat berperan dalam penyusunan anggaran. Posisinya dalam tim anggaran sebagai wakil ketua. Di Barenlitbang juga, semua proses anggaran terdata. Mulai dari tahapan, rancangan, hingga pengesahan.
Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI mengambil empat bendel notes yang berada di dalam ruangan Kantor Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Malang dalam penggeledahan, Jumat (11/8).
Sebanyak 12 orang penyidik KPK memeriksa seluruh ruangan sejak pukul 09.00 WIB. Kepala ULP Kota Malang Drs Widjaja Saleh Putra menjelaskan, tim penyidik KPK menggeledah seluruh sisi ruangan dan mengambil dokumen-dokumen. Salah satu yang ia ketahui adalah empat bendel notes berisi catatan-catatan kecil.
“Empat bendel notes kecil milik pegawai. Saya tidak tahu isinya apa, saya tidak tahu milik siapa juga. Notes itu milik arsip ULP,” ungkap Saleh saat ditemui usai pemeriksaan yang berlangsung sekitar enam jam lamanya.
Ditanya isi notes lebih dalam, Saleh mengungkapkan lagi isi notes tersebut bukan soal proyek Jembatan Kedungkandang ataupun proyek-proyek lainnya. Bukan juga soal catatan lelang. Notes-notes tersebut, lanjut Saleh, milik dari pegawai-pegawai ULP sendiri yang menjadi arsip. Salah satunya milik kasi-kasi dan kabid ULP Kota Malang.
Ia kembali menjelaskan, tim penyidik KPK yang berjumlah sebanyak 12 orang tersebut juga mengambil beberapa kertas-kertas lain. Ia tidak memberikan keterangan jelas soal isi kertas apa yang diambil.  “Bukan kuitansi, bukan tanda jadi. Saya lupa isinya apa, banyak soalnya,” papar Saleh lagi.
Saleh menerangkan kembali, penggeledahan yang dilakukan tim penyidik KPK di ruangannya ditujukan pada sebuah perihal yang spesifik.  Saleh sempat mengiyakan perihal kedatangan KPK hendak memeriksa terkait sebuah pengadaan proyek. Akan tetapi, ia enggan memberikan keterangan pasti soal itu. Ia hanya menegaskan, saat datang, tim KPK menunjukkan surat perintah penggeledahan terkait sebuah proyek.
“Iya, tadi menunjukkan perihal penggeledahan tentang proyek. Lupa saya tentang apa, sudah ya,” ungkapnya sambil berjalan meninggalkan awak media.
Dalam pengakuannya, Saleh mengaku tidak mendapat pertanyaan apapun dan hanya disuruh menjelaskan beberapa istilah dalam sebuah dokumen. Ia memilih tidak membeberkannya kepada wartawan. (ira/ica/han)

Berita Lainnya :