Ibunda Korban: Puji Pernah Dilabrak dan Diancam


MALANG POST - Isak tangis tak terbendung saat keluarga melihat Puji Astrianto 31 tahun jenazah yang ditemukan di sebuah lahan Sengon Jabung, di Kamar Mayat RSSA Malang kemarin. Istri korban, Alfa Quroida yang didampingi mertuanya Sulastri 55 tahun, duduk di dalam ruang kantor KM RSSA. Dia dikelilingi petugas forensik dan aparat, baik yang berpakaian preman maupun berseragam doreng dan hijau.
Dari luar ruangan, tampak keduanya menerima penjelasan dari petugas. Tiba-tiba saja, teriakan histeris pecah dari dalam ruangan tersebut. Alfa menangis sejadi-jadinya di hadapan para petugas KM RSSA Malang maupun aparat. Bahkan, Alfa sempat pingsan sehingga harus dibopong keluar. Ia tak kuat setelah melihat wajah suaminya yang sudah kaku tanpa napas di ruang mayat.
Alfa yang ditidurkan di bangku tamu di luar ruang mayat, menggeram dengan sesenggukan. Sulastri yang berada di sebelahnya, duduk sambil berupaya menenangkan menantunya. Alfa masih tak percaya, bahwa pria yang mulai membusuk dan dibungkus kantong mayat adalah suami dan bapak dari kedua anaknya.
Hati Alfa hancur. Berkali-kali wanita yang mengenakan kaus putih itu, meluapkan kesedihannya dengan berderai air mata. Ratapan pilu Alfa itu tak ayal membuat mata para aparat berwajib di sekitarnya, berkaca-kaca. “Aku gak percoyo iku mas Puji. Iku guduk mas Puji. Iku guduk mas Puji,”  pekik Alfa.
Deru tangisnya tertahan di antara pelukan Sulastri. Kepada wartawan, Sulastri mengatakan anaknya memang bermasalah dengan seorang pria yang diakuinya bernama Rana (pria yang disebut Randa itu diduga adalah Nana, oknum anggota militer yang telah diamankan polisi militer dan diduga menjadi penyebab kematian anaknya, Red).
“Satu bulan lalu, Rana pernah melabrak anak saya ke rumah, dengan alasan anak saya selingkuh dengan istrinya bernama Yayuk. Karena gak ada bukti ya saya marahi balik dia, saya tahu siapa anak saya. Sejak itu anak saya terus diancam,” urai Sulastri dengan mata sembab.
Menurut Sulastri, pria bernama Rana tersebut adalah sosok yang mengancam anaknya. Setelah kejadian pelabrakan terhadap Puji, Sulastri menyebut pengancaman tersebut terjadi lewat telepon. Pada 26 Mei 2018 lalu, Puji menelepon kepada Sulastri untuk menceritakan bahwa dia ingin pulang dengan dikawal teman dari tempat kerjanya di Alfamart Pakisaji. Sulastri sempat menerima telepon malam hari, sebelum anaknya menghilang.
“Dia sempat telepon dan bilang ada mobil yang membuntuti. Lalu, teleponnya tiba-tiba putus. Tapi, hilangnya anak saya, kok bertepatan dengan kejadian kecelakaan yang di ITN itu. Mobil yang tabrakan itu adalah mobilnya Rana (Nana). Saya yakin anak saya ada di situ saat kecelakaan,” terang Sulastri.
Kecelakaan mobil Suzuki Carry N 1193 CR dilaporkan terjadi dini hari 27 Mei 2018. Dia berupaya mencari anaknya ke lokasi tersebut. Namun, karena baru mencari keesokan hari setelah lokasi TKP bersih, Sulastri tidak bisa menemukan anaknya. Setelah kehilangan kabar selama tiga hari dua malam, siang kemarin dia menerima telepon yang menyebut anaknya ada di KM RSSA Malang.
“Saya baru tahu dari petugas yang telepon saya,” tutupnya. Puji merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Dia telah menikah dan memiliki dua anak, berusia 5 tahun dan 2 tahun.(fin/ary/han)

Berita Lainnya :