Dua Pelaku Penjual Gadis Dibekuk

 
MALANG – Dua pelaku perdagangan anak, terancam hukuman penjara selama 15 tahun. Mereka adalah Sumiati alias Ririn alias Lia Anisa alias Bu Sum, 40 dan Sunarmi alias Bu Sireng, 43. Keduanya ini ditangkap Satreskrim Polres Malang, karena pada bulan Maret 2018 lalu, mempekerjakan dua anak di bawah umur sebagai pemandu lagu atau Lady Companion (LC) di sebuah karoke di Papua.
Mereka dijerat dengan pasal 83 jo pasal 76F UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak atau pasal 6 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.
“Untuk sementara pengakuan mereka baru dua orang saja yang dipekerjakan di tempat karaoke. Tetapi kami masih akan terus mengembangkan kasusnya,” ungkap Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung.
Menurutnya, penangkapan keduanya ini, berawal dari informasi ada perdagangan anak di bawah umur yang dipekerjakan di sebuah tempat karaoke. Kemudian bekerjasama dengan Polda Papua, melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap kedua pelaku. Termasuk memulangkan kedua korban kepada keluarganya.
“Modusnya, mereka ini mencari korban ditawarkan bekerja di café. Namun setiba di Papua, ternyata (maaf) malah dijadikan PSK, sehingga korban yang tidak mau melarikan diri. Kedua korban oleh pelaku ini, juga dijerat utang Rp 13 juta, dengan alasan sebagai ganti biaya kontrak dan pesawat,” jelas Ujung.
Sementara dari penyidikan, Sumiati alias Ririn alias Lia Anisa alias Bu Sum, 40, warga Dusun Sidomulyo, Desa Tambakasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan ini, diketahui sebagai pemilik tempat karaoke di Papua.Kemudian ia meminta Sunarmi alias Bu Sireng, 43, warga Dusun Dusun Sidomulyo, Desa Tambakasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan atau Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, untuk mencarikan perempuan yang masih muda.
Sumiati mengatakan dua perempuan muda itu, akan dikerjakan sebagai pelayan café, dengan iming-iming gaji sebesar Rp 120 ribu per-hari. Akhirnya Sunarmi alias Bu Sireng, mencari anak muda dan mendapati SRSP dan RNS, warga Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Sebelum berangkat, mereka ditampung di rumah Sunarmi selama dua hari. Keduanya dibawa ke salah satu bidan, untuk disuntik KB. Termasuk oleh Sunarmi, identitas keduanya dipalsukan dengan menambah umurnya. Setelah itu, baru diberangkatkan ke Papua pada bulan Maret.
Begitu tiba di Papua, ternyata korban bukannya dikerjakan pada sebuah café. Melainkan sebagai purel di sebuah karaoke milik Sumiati. Keduanya yang sempat minta pulang, juga diminta membayar Rp 13 juta dengan alasan uang ganti rugi kontrak selama enam bulan, serta biaya pesawat.
Tidak hanya itu, keduanya juga diminta untuk melayani pria hidung belang, dengan tarif Rp 1,5 juta. Namun keduanya menolak dan berhasil kabur, hingga kasus perdagangan orang inipun terbongkar.
“Saya hanya diminta untuk mencarikan anak saja. Dan baru sekali itu saja, sebelumnya tidak pernah,” tutur tersangka Sunarmi alias Bireng. 
Sedangkan tersangka Sumiati, mengatakan kalau tempat karaoke itu bukan miliknya lagi, karena sudah dikontrakan kepada orang lain. 
“Saya sudah setahun balik ke Malang. Tempat itu saya sewakan kepada orang lain. Cuma memang saya diminta mencarikan anak yang bisa dipekerjakan di tempat karaoke itu,” ucap Sumiati. (agp/jon)

Berita Lainnya :