Sesuai Hasil Otopsi, Janggal Jika Tewas karena Terpental


MALANG – Ada fakta baru di balik penculikan berujung tewasnya Puji Astrianto (31 tahun), karyawan Alfamart Pakisaji. Kematian warga Jalan Srigading Lowokwaru Kota Malang ini, ternyata bukan karena kekerasan atau luka karena benturan di kepala akibat kecelakaan. Sesuai hasil otopsi yang diterima Polres Malang kemarin, menyimpulkan Puji tewas karena lemas.
“Untuk kematian korban berdasarkan hasil otopsi karena lemas,” tegas Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, kepada wartawan kemarin.
“Lemas karena apa, penyidik nanti akan berkoordinasi lagi dengan dokter forensik. Tetapi kesimpulan sementara dari otopsi, meninggal karena lemas. Bisa jadi karena kehabisan oksigen,” sambungnya.
Karenanya, untuk mengungkap penyebab kematian korban sebenarnya, selain menunggu hasil otopsi secara resmi, penyidik Satreskrim Polres Malang juga akan menghubungannya dengan pemeriksaan saksi-saksi serta tersangka. Proses atau kronologis kematiannya seperti apa. Apakah benar karena kecelakaan atau karena lainnya?
“Pemeriksaan terhadap dua pelaku yang masih amankan masih belum maksimal, karena baru semalam (Selasa malam, red) ditangkap. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih mendalam,” jelas Ujung.
Apakah tidak ada bekas luka, seperti benturan pada kepala ? Perwira dengan pangkat dua melati ini, mengatakan bahwa berdasarkan hasil otopsi tidak ada luka pada tubuh korban. Hanya luka di pergelangan tangan karena ikatan tali.
“Sama sekali tidak ada luka,” katanya.
Jika hasil otopsi tidak ada luka, maka berbalik dengan kronologis dugaan penculikan berujung tewasnya Puji, yang diaktori oleh Praka Nana Suryana. Kecelakaan yang kabarnya menyebabkan Puji tewas, terlihat janggal. Sebelumnya korban Puji meninggal dunia, diduga akibat kecelakaan Suzuki Carry Nopol N 1193 CR yang digunakan sarana penculikan. Tubuh Puji terpental keluar melalui kaca depan mobil dan kepalanya membentur tembok bangunan.
“Makanya itu yang nanti akan kami kembangkan. Karena kami tidak bisa begitu saja percaya dengan keterangan awal yang meninggal karena kecelakaan,” tegasnya.
Sementara itu, pasca terbongkarnya kasus penculikan berujung tewasnya Puji itu, Selasa malam Polres Malang mengamankan dua orang sipil. Masing-masing berinisial F (Farhan) dan C (Capung). Mereka ini, memiliki peran menguntit korban dari tempat kerjanya di Pakisaji, bersama dengan dua orang pelaku lain yang kini dalam pengejaran.
Ketika melakukan penguntitan, lanjut Ujung, F bertindak seolah-seolah seperti anggota Intel Kepolisian. Ia mengawasi korban sembari memegang handy talky (HT). Kemudian di tengah perjalanan pulang dari tempatnya bekerja, korban ditabrak oleh pelaku.
“Tersangka C dan F , lantas memasukkan korban ke dalam mobil. Kemudian C, bertugas membawa motor korban. Mereka berdua ini, juga ikut mengikat tangan dan menutup mulut korban,” urainya.
Rencananya, berdasarkan keterangan kedua tersangka yang diamankan, korban akan dibawa ke wilayah Kota Batu. Namun di tengah perjalanan, mobil yang mereka gunakan mengalami kecelakaan.
Lantas apa motif penculikan berujung tewasnya Puji? Dikatakannya, bahwa motif sekilas ada hubungan asmara antara korban dengan istri dari salah satu pelaku. Tetapi untuk motifnya masih terus dikembangkan lagi. Polres Malang, juga telah membentuk tim khusus untuk memburu dua pelaku lain yang kini masih buron.
“Untuk dua pelaku yang sudah kami amankan, mereka kami jerat dengan pasal 365 KUHP yakni pencurian dengan kekerasan, karena motor korban dirampas, dan pasal 333 KUHP tentang penculikan,” tandasnya.
Sekadar diketahui, Polisi militer dan Polres Malang membongkar gundukan tanah berisi mayat di Kebun Sengon Dusun Boro Desa Jabung Kecamatan Jabung, Selasa (29/5) lalu. Mayat itu adalah jasad Puji Astrianto, warga Jalan Srigading, Lowokwaru, Kota Malang, yang diduga dikubur oleh Praka Nana Suryana dan tiga warga sipil.
Sebelum tewas dan dikubur, korban terlebih dahulu diculik seusai pulang kerja di Alfamart Pakisaji. Kedua tangan korban diikat, mulut dilakban dan dimasukkan ke dalam mobil Suzuki Carry Nopol N 1193 CR.
Sementara itu, Malang Post sudah berusaha menghubungi dan mendatangi Denpom V/3 untuk mengetahui perkembangannya kasus ini. Namun, hasilnya nihil.  Sekitar pukul 10.00, Malang Post berusaha mendatangi Denpom V/3 dan diarahkan ke seksi Lidpamfik, namun yang bersangkutan tidak di tempat. Kemudian, Malang Post berupaya menghubungi bagian lain melalui sambungan telepon. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil.
"Sebentar, saya bantu cari info. Nanti saya kabari lagi," ujar salah satu anggota Denpom.
Kemudian, Malang Post berusaha menghubungi Dandenpom V/3 Malang, Letkol CPM Indra Wirawan namun tidak memberikan respons, baik melalui pesan singkat maupun telepon.
Sekitar pukul 12.00, Malang Post kembali datang lagi ke Denpom V/3. Namun, hasilnya nihil. Bahkan, Malang Post sempat meninggalkan nomor ponsel berharap akan dihubungi jika seksi lidpamfik sudah kembali ke tempat. Malang Post juga sudah meminta kontak yang bersangkutan namun masih nihil respons.(agp/tea/ary)

Berita Lainnya :

loading...