Kabid Parkir Dibui, Tekanan Darah Tinggi Kumat


MALANG – Tekanan mental sempat memperburuk kondisi kesehatan tersangka kasus dugaan korupsi retribusi parkir Dishub Kota Malang, M Syamsul Arifin. Dalam pengawasan Lapas Klas 1 Malang, Syamsul dilaporkan ngedrop. Dia sempat dirawat ke RSSA Malang akhir bulan Mei lalu.
Hal ini dibenarkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Malang, Amran Lakoni kepada wartawan.
“Akhir bulan Mei lalu memang mengalami sakit. Kejaksaan memeriksakannya ke RSSA Malang. Kami dapat laporan dokter, tekanan darah tinggi, liver dan kadar gulanya naik,” ujar Amran kepada wartawan di kantor Kejari Malang, kemarin.
Seperti diketahui, Kabid Parkir Dishub Kota Malang Syamsul, telah lama menderita sakit darah tinggi. Dia sudah pernah mengalami serangan stroke sehingga syaraf di tubuh bagian kanannya, yakni tangan dan kaki kanannya mengalami kelumpuhan. Sebelumnya, Syamsul sudah sering menjalani terapi untuk pemulihan dari efek stroke.
Hanya saja, sebelum terapinya benar-benar pulih, dia sudah keburu ditahan oleh Kejari Malang dan menghuni LP Lowokwaru. Menurut Amran, Syamsul diantar oleh kawalan tim Kejari Malang menuju RSSA Malang. Syamsul dikawal dengan personel Kejari Malang sesuai standar operasional.
Meski demikian, Amran mengatakan Syamsul tidak lama menjalani pemeriksaan dan perawatan. Menurutnya, dokter sudah memberi lampu hijau untuk memulangkannya ke LP Lowokwaru setelah beberapa jam dalam perawatan. “Tidak lama dirawatnya. Dokter beri lampu hijau untuk kembali, dan kita langsung antarkan ke Lapas,” sambung Amran.
Terkait kasus yang menjerat Syamsul, tim Pidsus Kejari Malang terus melakukan pendalaman dan pengembangan penyidikan. Termasuk, kemungkinan adanya calon tersangka baru yang akan menemaninya ke LP Lowokwaru. Amran hanya belum bisa menerangkan secara gamblang hasil pendalaman para jaksa penyidiknya.
“Tim kita masih terus pendalaman dan pengembangan, kita lihat saja,” tuturnya.
Syamsul terjerat kasus dugaan korupsi retribusi parkir tahun 2015-2017 dengan nilai total kerugian negara disinyalir mencapai Rp 1,5 miliar. Nilai tersebut didapat dari penelitian buku register setoran parkir selama tiga tahun anggaran.
Sementara, Kalapas Klas 1 Malang Farid Junaedi mengatakan Syamsul dirawat ke RSSA Malang walaupun sebenarnya Lapas Klas 1 Malang telah memiliki tim dokter. Menurutnya, apabila kondisi tersangka mengalami penurunan dan tak bisa diatasi oleh dokter Lapas, pihaknya baru mengirim rujukan ke rumah sakit di luar Lapas.
Farid mengatakan SOP dari seorang tersangka yang dirawat di rumah sakit luar Lapas, adalah harus dikawal dan diborgol. Kalapas Klas 1 Malang menyebut pihak keluarga Syamsul sempat marah-marah dan tak terima ketika proses penahanan terjadi. Pihak keluarga tak terima dan mengamuk kepada pihak Lapas, karena Syamsul ditahan dalam kondisi sakit.
“Ketika akan menjadi penghuni Lapas, sempat ramai-ramai. Karena pihak keluarga tak mau yang bersangkutan ditahan dalam kondisi sakit. Yang bersangkutan mendapat perawatan sekitar dua hari, lalu dikembalikan ke Lapas. Kondisinya membaik, dan dalam pantauan dokter,” papar Farid.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...