Operasi Pekat Semeru 2018 Temui Prostitusi di Kota Malang

 
MALANG - Operasi Pekat Semeru 2018 yang dilaksanakan sejak 21 Mei sampai 1 Juni 2018 telah selesai. Pada operasi tersebut, Tim Resmob Makota berhasil menemukan satu titik prostitusi di wilayah Kota Malang. 
Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun dari penyidik Satreskrim Polres Makota, sekitar tanggal 24 Mei 2018, pihaknya telah berhasil melakukan penangkapan terhadap V, 20, seorang model asal Semarang yang juga berprofesi sebagai PSK. Ia ditangkap di sebuah hotel di sekitar Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. 
Transaksi tersebut dilakukan oleh Tim Satreskrim Polres Makota dengan cara menghubungi mucikari, NS, 21 warga Kecamatan Kedungkandang melalui telepon. Kemudian, NS 'menyodorkan' V kepada calon 'pelanggan'. Ketika itu, V disuruh menunggu di hotel tersebut. 
Kemudian, pihak kepolisian langsung datang dan menangkap V. Selang beberapa jam kemudian, pihak kepolisian berhasil menangkap NS di rumahnya. 
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari keduanya, V mematok tarif Rp 1,5 juta sekali main. Keuntungannya dibagi dua, V mendapat upah Rp 1 juta dan NS menerima Rp 500 ribu. 
Selama beberapa bulan terakhir, V mengaku sering mendapat 'job' dari NS ketika ada yang menawar tubuhnya. Sejauh ini, baru dua kali transaksi dari pelanggan yang didapat dari NS.
Menanggapi hal itu, Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, S.IK, MH menuturkan, akibat perbuatannya tersebut, NS dikenakan pasal 506.
"Kami masih melanjutkan penyidikan terhadap kasus ini," terang dia. 
Selain kasus prostitusi, selama Operasi Pekat Semeru 2018, ada 136 kasus lain yang berhasil diungkap. Diantaranya adalah kasus premanisme sebanyak 69 kasus, narkoba 13 kasus, miras 52 kasus, dan judi 1 kasus.
Berdasarkan dari kasus tersebut, barang bukti yang berhasil disita dari para pelaku antara lain ganja sekitar 83 gram, sabu-sabu sebanyak 19,62 gram, miras 890 botol dan pil koplo sebanyak 25 butir.
"Pelaku yang diamankan ada 13 orang, terkait dengan kasus narkoba dan satu kasus premanisme. Pelaku saat diamankan membawa senjata tajam," ujar dia. 
Sedangkan untuk kasus miras yang diamankan merupakan miras olahan industri rumahan, tapi bukan oplosan. "Ada juga minuman botol yang disita karena pemilik tidak mempunyai ijin," terang dia. 
Sementara untuk arak jawa, sebagian besar berasal dari Tuban dan tidak ada yang diproduksi di Kota Malang.
Lebih lanjut, Asfuri mengungkapkan, dari lima kecamatan yang ada di wilayah hukum Kota Malang, tiga kecamatan diantaranya mendominasi kasus-kasus tersebut. Yakni Kecamatan Kedungkandang, Lowokwaru dan Klojen.
Kecamatan Klojen mendominasi kasus miras dan narkoba, yakni sebanyak 10 kasus. Sedangkan angka kriminalitas paling banyak di Lowokwaru. 
"Karena banyak kos dan kontrakan mahasiswa. Dan tidak sedikit masyarakat belum bisa mengamankan kendaraan," ujar dia. 
Pihaknya pun terus menghimbau kepada masyarakat agar selalu waspada dan terus meningkatkan keamanan. (tea/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :