Terparah Tahun 2017

 
Kabakaran yang melanda pabrik pengolahan plastik, PT. Tri Surya Plastik Lawang, bukan yang kali pertamanya. Menurut informasi, kebakaran ini sudah yang kali keempatnya. Paling parah terjadi pada bulan Februari 2017 lalu. 
"Ini kejadian yang keempat kalinya. Pertama pada tahun 2001, kemudian tahun 2005, lalu tahun 2017 dan kali ini yang keempat kalinya," ujar warga sekitar. 
Menurut warga, kejadian kebakaran terparah pada tahun 2017 lalu. Karena seluruh pabrik ludes terbakar. Saking parahnya kebakaran saat itu, api juga sampai menjalar ke sebagian rumah warga yang berdekatan. 
Dengan kejadian yang kali keempat ini, warga sekitar yang berdekatan mengaku cemas. Warga berharap pabrik bisa dipindahkan ke tempat lain. Karena lokasi pabrik pengolahan plastik ini, berada di tengah perkampungan warga. 
"Seharusnya kalau sudah tiga kali kejadian, pemerintah harusnya tanggap untuk memindahkan atau menutup pabrik. Kami khawatir, kejadian kebakaran terulang lagi dan imbasnya pasti warga sekitar yang susah," ungkap salah satu warga. 
Dikatakannya, pada kejadian ketiga tahun 2017 lalu, warga sebenarnya sudah meminta pemerintah tanggap. Namun keluhan warga sama sekali tidak ada tanggapan. Buktinya pabrik plastik tetap berdiri dan malah membangun lebih besar lagi. 
"Sebetulnya warga sudah banyak yang mengeluh. Tetapi keluhan warga yang merupakan masyarakat kecil, tetap tidak ada tanggapan. Semua protes yang dilayangkan warga selalu kandas," tegasnya. 
Sementara itu, warga lainnya mengatakan bahwa sebenarnya H. Siswanto orang baik. Pemilik pabrik diakui warga sering bersedekah dan membagikan sembako kepada warga. Terutama ketika menjelang lebaran. 
"Hari Kamis lalu, sebetulnya baru 7 hari meninggalnya ibunya (alm Sulipah). Warga yang datang pada selamatan tujuh hari, saat itu juga diberi uang Rp 100 ribu," ujar Munasib, salah satu warga. 
Bahkan Minggu pagi lalu sebelum terbakar, H. Siswanto dan keluarganya membagikan sembako kepada warga sekitar. Selain warga Jalan Sumbersuko, Kelurahan Lawang, juga kepada warga Desa Ketindan. 
"Yang mendapat sembako hampir semua warga sekitar. Setiap KK, mendapatkan sembako dan uang Rp 100 ribu," katanya. 
Terpisah Murtaji, Lurah Lawang, mengaku  memang warga cemas dengan kebakaran yang terjadi di PT. Tri Surya Plastik. Namun kecemasan warga, karena takut api merambat ke bangunan rumah. 
"Kalau warga resah dan protes, sepertinya tidak ada. Hanya cemas saja lantaran takut api merambat ke rumahnya," ujar Murtaji. 
Ia mengatakan, warga tidak ada yang protes, karena kepedulian H. Siswanto dengan warga sekitar sangat besar. Pemilik pabrik dikenal dermawan dan cukup membantu warga sekitar. Bahkan sebagian warga juga bekerja di pabrik pengolahan plastik itu. (agp/jon/mar)

Berita Lainnya :

loading...