Wiyono Diperiksa Tiga Kali di Kejaksaan


MALANG - PARA staf Kelurahan Oro-Oro Dowo tidak menyangka Wiyono akan berbuat nekat. Sebab, selama ini, pria yang biasa dipanggil Pak Wi tersebut selalu terbuka dengan teman-temannya. Namun, sejak satu bulan terakhir, Pak Wi terlihat murung dan pandangan kosong.
Bahkan, ia sempat mengajukan pensiun dini kepada Lurah.  Sekertaris Kelurahan Oro-Oro Dowo, Herma Yudianto mengatakan, selama ini, dirinya dengan Pak Wi cukup akrab. Apalagi, mereka duduk bersebelahan dan sering bercanda.
“Wong ya masih guyon. Kapan hari masih lembur dengan saya. Hanya semalam saja saya tidak lembur. Kok ya paginya dapat kabar begini,” papar dia sambil nelangsa.  Menurutnya, beliau merupakan PNS senior yang merintis karir dari nol, melalui golongan I.
Apalagi, selama bekerja, korban merupakan orang yang jujur dan sangat rajin. "Semua pekerjaannya selalu selesai tepat waktu. Beliau orangnya juga teliti sekali," papar dia.  Herma menyebutkan, semalam, Pak Wi memang lembur di kantor.
Namun, sekitar pukul 20.00, ia meminta penjaga kantor untuk pulang duluan. "Ketika itu, ia meminta penjaga untuk pulang. Ia pun berpesan supaya kantor ditutup dan dikunci," beber dia.  Kemudian, tidak tahu apa yang terjadi.
Herma mengaku, ia baru mendengar kabar tersebut sekitar pukul 06.00. Ia langsung mendatangi TKP dan sempat melihat kondisi Pak Wi. Di sana, ditemukan surat wasiat yang sudah diketik rapi dan di print sebanyak tiga lembar.
Surat tersebut ditaruh di atas mejanya sendiri, meja Herma dan juga dompet milik Pak Wi. Bahkan, Pak Wi juga sempat memarkir kendaraan dinasnya di dalam ruangan kelurahan. “Kemudian, di laci meja saya juga ada beberapa kunci,” terangnya.
“Kunci lemari hingga kunci kendaraan dinas sudah ditaruh pak Wi dengan rapi di laci saya. Saya ndak berani pegang-pegang,” papar Herma.  Lurah Oro-Oro Dowo, Krisman mengungkapkan, Pak Wi suka murung sejak anak keduanya menikah, 7 Mei 2018 lalu.
 “Saya juga tidak mengerti, kenapa beliau begitu. Apa yang dipikirkan juga tidak paham. Biasanya, beliau sangat terbuka dengan kami. Wong sudah seperti keluarga," papar dia ketika ditemui Malang Post.  Selama ini, Pak Wi berlaku sebagai Bendahara Pengeluaran.
Akhir-akhir ini, ketika mendekati Pilkada, ia juga aktif sebagai anggota dalam Panitia Pemungutan Suara (PPS). Beberapa waktu belakangan, Krisman mengaku Pak Wi sempst tidak fokus dalam melakukan pekerjaannya.
Sehingga, beberapa Surat Pertanggungjawaban (SPJ) beberapa tidak selesai. "Salah terus katanya. Mungkin karena sering murung, karena banyak pikitan sehingga kerjanya sedikit tidak fokus," urai Krisman.
Sementara untuk kesehariannya, Krisman menungkapkan hal yang sama seperti Herma, ia mengaku, Pak Wi adalah sosok orang yang sabar, tidak pernah marah, tekun, dan juga jujur. “Sekitar satu minggu belakangan ini beliau memang sering lembur,” kata dia.
Ketika lembur, Krisman mengaku, ketika bertemu teman-temannya sesama staf, Pak Wi mengucapkan maaf kepada teman-temannya. “Bahkan, sebelum cuti lebaran kemarin. Beliau mengajukan pensiun dini kepada saya. Saya sempat bertanya juga apa alasannya. Tapi beliau tak menjawab,” papar dia.
Menurut Krisman, ia sering mendengar korban mengeluh kepada teman-temannya. Ia mengaku, tanggung jawabnya sebagai tulang punggung begitu besar. Menurutnya, ada satu hal yang mungkin menjadi beban pikiran Pak Wi.
Satu bulan belakangan, sekitar tiga kali, ia sempat dipanggil oleh Kejaksaan Negeri Kota Malang sebagai saksi. “Kasusnya apa, saya tidak tahu. Mungkin beliau kepikiran soal itu. Pernah mengeluh soal bagaimana nasibnya dia juga,” tandas dia.
Sementara itu, mantan Lurah Oro-Oro Dowo Imam Subagyo juga sempat mengenal korban. Sama dengan Herma dan Krisman, ia merupakan sosok orang yang teliti, loyal kepada pimpinan dan penuh tanggung jawab. Sehingga, ia sangat merasa kehilangan.
“Saya tidak menyangka saja,” ujar dia singkat. Dia sempat menunjukkan ungkapan duka cita dari Sekda Kota Malang, Wasto. “Ini Pak Wasto WA saya. Beliau bilang Pak Wi merupakan orang yang baik, disiplin, penuh tanggung jawab dan punya dedikasi tinggi,” tambah dia.
Sementara itu, ketika Malang Post mencoba konfirmasi kepada Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang Amran Lakoni SH, dan Kasi Pidsus Kejari Kota Malang, Rakhmad Wahyu ponselnya tidak ada yang aktif. (tea/mar)

Berita Lainnya :

loading...