Usai Tulis Surat Minta Maaf, PNS Kelurahan Bunuh Diri


MALANG - Diduga banyak ekonomi dan masalah, Wiyono, 54, warga Jalan Janti VII Malang nekat bunuh diri di tempat kerjanya, kantor Kelurahan Oro-Oro Dowo, Malang, kemarin pagi. Ia ditemukan tak bernyawa di jendela kantornya dengan kondisi tergantung.
Anggota Polsekta Klojen dan Polres Malang Kota (Makota) hingga semalam masih melakukan penyelidikan dan memeriksa anak dan istri korban. “Penyebabnya apa masih dalam penyelidikan,” kata Kasubbag Humas Polres Makota, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni.
Informasi yang didapat,  Senin (18/6), Wiyono, berpamitan kepada istri dan anak-anaknya untuk lembur di kantor. Ia pergi meninggalkan rumah sekitar pukul 17.00. Kemudian, sekitar pukul 19.00, keluarga di rumah ingin mengecek kondisi korban.
Mereka berusaha menelpon ponsel milik korban. Namun, tak mendapatkan respon.  Setelah dicoba semalaman, korban tetap tak merespon segala panggilan dari keluarganya. Kemudian, Andi, salah satu anaknya berinisiatif untuk mengecek kondisi ayahnya di kantor, kemarin pagi.
Sesampainya di kantor, seluruh pintu dalam keadaan terkunci. Anak korban kemudian memanggil Darman, penjaga kantor untuk membuka pintu dan mengecek kondisi ayahnya.  Ketika memasuki ruangan, Andi dan Darman kaget.
Keduanya melihat Wiyono sudah tergantung tak bernyawa di jendela ruangan.  Mengetahui kondisi tersebut, Andi dan Darman langsung merebahkan tubuh korban di lantai. Mereka menghubungi pihak kepolisian. Jenazahnya pun dibawa ke kamar mayat RSS Malang.
Tim Inafis Polres Makota menduga korban memang bunuh diri. Ini dibuktikan juga dengan surat permintaan maaf yang diketik korban sebelum bunuh diri. Permintaan maaf itu ditujukan untuk pejabat Pemkot Malang, teman sesama kerjanya dan tokoh agama.
Inilah sepenggal surat permintaan mafanya: “Mohon maaf atas kesalahanku ini. Jangan salahkan istri dan anak-anakku yang tidak berdosa sehingga aku sampai berbuat nekat seperti ini. Semua ini memang salahku sendiri dan keluargaku menjadi korban atas perbuatanku,”.
Salah satu keponakan korban yang tak ingin disebut namanya, mengaku tidak ada gelagat aneh yang ditunjukkan oleh pamannya tersebut. “Masih bercanda dan wajar-wajar saja seperti biasa. Lebaran kemarin juga masih silaturahmi,” terang dia.
Pria berkepala plontos tersebut tinggalnya juga bersebelahan dengan rumah korban. Di lingkungan tempat tinggalnya, korban juga berlaku sebagai Ketua RT. "Lebaran kemarin para warga juga sempat datang ke rumah beliau. Beliau sangat disayang warga,” katanya.
“Orangnya juga sabar dan tidak pernah marah. Saya masih kaget. Sekitar satu bulan terakhir sebelum meninggal, ia merasa korban lebih religius. Seperti rajin pergi ke masjid dan beribadah. Itu saja,” tandas dia. (tea/mar)

Berita Lainnya :