Ketel Meledak, Lima Rumah Ambruk

 
BATU - Ledakan dahsyat terjadi di RT 3 RW 1, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, kemarin (14/8) sekitar pukul 16.30. Sebelum terdengar bunyi ledakan, warga di sekitar tempat kejadian merasakan getaran mirip gempa bumi.
Seiring dengan itu kaca jendela di sekitar tempat kejadian perkara banyak pecah, bahkan daun jendela juga copot, diiringi hujan pecahan genteng.  Baru kemudian terdengar ledakan yang sangat keras dan meluluh lantakkan bangunan di sekitar tempat kejadian perkara.
Ledakan tersebut ternyata bersumber di home industri pembuatan tempe milik Sandra Devian Mahastato, 31 tahun, warga setempat. Diduga ledakan tersebut terjadi karena kebocoran pipa yang tersambung dari Ketel menuju ke tiga drum pemasak tempe.
Ledakan yang bisa dirasakan lebih 200 meter ini mengakibatkan lima rumah rusak parah. Kelima rumah yang rusak parah tersebut milik Sandra, Sugeng Tricahyono, 34 tahun, Agung Wibowo, 30 tahun, Sukri, 50 tahun dan Jumain, 35 tahun, kelima orang ini warga RT 3 RW 1.
Namun banyak warga di sekitar tempat kejadian perkara juga mengalami kerusakan pada atap. Seperti rumah Dwi Santoso, tetangga Sandra yang berada di RT sebelah, atap rumahnya rusak parah, karena tertimpa material ledakan. 
Kapolsek Junrejo AKP Hartana mengatakan diduga penyebab ledakan adalah dari kebocoran ketel. "Dugaan sementara karena ada kebocoran pipa penyambung pada ketel, kita masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi," kata kapolsek.
Kapolsek bersyukur karena melihat begitu besarnya ledakan, tidak ada korban jiwa atau pun korban terluka dalam peristiwa ini. Kerugian hanya kerugian materiil karena rumah yang ambruk.
Pihaknya juga mensterilkan wilayah ledakan yang cukup lebar, karena disana sini banyak dinding yang jebol dan rawan ambruk. "Sangat berbahaya karena banyak dinding yang rawan ambrol," ujar kapolsek.
Keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber di lapangan, ledakan ini terjadi setelah beberapa saat warga Desa Beji merayakan bersih desa. Sebagian melanjutkan aktifitas mereka dengan bekerja. 
Sugeng Tricahyono, 34, warga setempat yang rumahnya berada disamping tempat kejadian perkara menuturkan saat itu, ia sedang bercengkrama di teras rumah bersama istrinya Suswati dua anaknya Ane dan Anayah.
"Tiba-tiba bumi bergetar, kemudian terdengar ledakan yang sangat keras, saya pun langsung memeluk anak saya dan menyelamatkan diri. Saya kira ada meteor jatuh, tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba ada ledakan," ujar Sugeng.
Saat lari ia, melihat kaca jendela pecah dan daun jendela rumahnya copot. Usai ledakan terjadi ia melihat ruang setrika dan satu kamar di lantai dua jebol hingga ia bisa melihat reruntuhan pabrik tempe milik Sandra. Ruangan yang dipergunakan Sugeng untuk membuat tempe pun hancur, hingga ia tidak bisa lagi memproduksi tempe. "Kita berharap bisa segera diperbaiki, agar bisa bekerja seperti sedia kala," ujarnya.
Kedahsyatan ledakan juga dirasakan oleh Sulianto. "Jadi sebelum ledakan, tanah ini bergetar seperti ada gempa bumi, baru kemudian ada hujan pecahan genteng, baru kemudian terdengar ledakan, saya langsung lari ke tempat kejadian perkara, saya khawatir ada korban jiwa, saya bersyukur ternyata tidak ada korban jiwa," ujar Sulianto. 
Saat itu Sandra, pemilik home industri tempe yang meledak sedang tidak ada di rumah. Sandra yang juga berstatus seorang guru di sebuah SD di Desa Mojorejo saat peristiwa terjadi ditugaskan oleh kepala sekolah untuk menjaga muridnya yang sedang latihan nari di Stadion Gelora Brantas. 
Di rumah hanya ada dua orang pembantunya, yakni  Juwair, 40 tahun dan istrinya Ngatini, 37 tahun, warga Dusun ngemplak, Desa Beji.  Kedua pembantu ini juga selamat tidak terluka, keduanya masih terlihat shock melihat kejadian yang baru saja dialaminya.
Menurut Juwair, sekitar pukul 16.30 WIB, ia mendengar suara gemeratak di sekitar ketel, namun Juwair mengira kalau suara itu adalah bunyi gemeretak kayu yang terbakar. Ketel yang berfungsi untuk menghasilkan uap ini memang menggunakan bahan bakar kayu.
Uap yang dihasilkan ketel ini kemudian dialirkan pada tiga drum yang digunakan untuk memasak kedelai menjadi tempe. Untuk mengalirkan uap yang ada di ketel ke drum, dipergunakan kipas yang dipasang khusus.
"Waktu itu belum menggiling, saya sedang mengeluarkan kedelai yang sudah dipecah, tiba-tiba terdengar suara gemeratak, saya kira suara kayu. Ternyata tidak lama kemudian terdengar bunyi mendesis yang sangat keras, membuat saya akhirnya lari keluar dari rumah," ujar Juwair yang lari bersama istrinya
Saat itulah terdengar ledakan yang sangat dahsyat. Ketel ini mulai dinyalakan siang hari, namun ia tidak mengetahui persis jam berapa. Yang jelas sekitar pukul 11.00 WIB, ketel ini sudah beroperasi.
Sementara itu Sandra, mengatakan bahwa ketel ini dirakit sendiri oleh ahli pembuat ketel. Ketel ini ditempatkan diruangan seluas 15 x 7 meter. Di Desa Beji, hanya di rumah Sandra saja yang menggunakan ketel.
Uap dari ketel ini dipergunakan untuk memasak kedelai. "Pembakarannya membutuhkan waktu empat jam, selama ini tidak ada masalah apa-apa," ujar Sandra. (dan/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...