Bocah Tersambar KA Akhirnya Meninggal

 
MALANG – Setelah sempat dirawat di RS Wava Husada, akhirnya Fahri Zaelani bocah warga Jalan Flamboyan RT 13 RW 03 Pakisaji yang tersambar Kereta Api Penataran, akhirnya meninggal dunia. Fahri terbrak kereta dengan nomor loko 433 Jurusan Surabaya–Malang–Blitar di Jalur Kereta Api KM 60+ 1-2 Malang di Desa Pakisaji Rabu (16/8) lalu, sempat sehari dirawat di RS.
Korban meninggal, Jumat dini hari (18/8) pukul 04.00 dengan luka di tengkorak atas sebelah kiri. Luka yang dialami terlalu lebar dan panjang ini diduga akibat menghantam bebatuan terlalu kuat ketika jatuh terpental.
“Ketika sampai di Wava maunya langsung dijahit oleh petugas medis di sana. Namun setelah diperiksa luka di bagian kepalanya, mereka mengurungkan niatnya karena kaget luka di tengkoraknya sangat dalam dan tulang tengkorak retak memanjang,” papar Arip tetangga korban kepada Malang Post. 
Tim medis menunggu stabilnya tekanan darah Fahri dan denyut jantungnya menjadi stabil sebelum melakukan operasi pada tulang tengkorak. Namun setelah ditunggu sekian lama kondisi tubuh siswa yang bersekolah di SDN 01 Pakisaji ini tidak menunjukkan perkembangan yang baik.
Hingga pada pukul 02.00 dini hari peralatan medis yang menempel pada tubuh Fahri dilepaskan dan ia dinyatakan meninggal dunia pukul 04.00 pagi. 
“Mungkin memang jalan dari Yang Maha Kuasa, Ia menunjukkan pada kami bahwa Ia lebih mencintai Fahri daripada kami” ungkap Juari selaku ketua RT 13 sekaligus salah satu family korban.
Sementara itu untuk mengantisipasi terulangnya kejadian yang dialami Fahri, Ketua RT 13 Juari dan Ketua RT 12 Hanafi bermusyawarah dengan Ketua RW 03 dan mengajak Lurah mendatangi PT. KAI Stasiun Kota Baru. Tujuannya guna merundingkan pemasangan sirine untuk wilayah Jalan Flamboyan Desa Pakisaji. 
Menurut Hanafi di jalan Flamboyan yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari lintasan kereta api sering melihat banyak warga yang hampir tertabrak kereta yang melintas. 
“Ini memang sudah dianggap daerah rawan kecelakaan oleh warga sekitar karena bukan sekali dua-kali. Banyak yang hampir tertabrak kereta. Saya sendiri juga sering melihat orang yang baru mengerem kendaraanya jika tidak diteriaki warga atau mendengar klakson kereta” jelas Hanafi.(mg/1jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...