Tersangka Emak-Emak Penipu 120 Orang, Risna Absen Layani Gereja

MALANG - Risna Buatasik, 43 tahun, wanita kelahiran Pomala Sulawesi Tenggara, yang tinggal di Mergan Raya V, Tanjung-Sukun, punya latar belakang yang mencengangkan. Sejak resmi menjadi tersangka, pelaku penipuan senilai Rp 1,7 miliar atas 120 orang ini, terpaksa absen melayani gereja. Dalam akun Facebook Risna Buatasik, dia mencantumkan keterangan bahwa wanita dua anak itu adalah sekretaris pengurus gereja.
"Orangnya pelayanan sekolah minggu (ibadah anak kecil). Kaget karena orangnya baik," kata salah satu sumber kepada Malang Post, kemarin sore.
Saat ditunjukkan foto profil Facebooknya, sumber Malang Post juga membenarkan bahwa wanita tersebut bernama Risna Buatasik. Wanita kelahiran 1974 yang dilaporkan oleh leasing atau finance kredit motor karena dugaan penipuan-penggelapan. Kasus ini sudah ditangani Polres Malang Kota, Risna sendiri sudah cukup lama tidak beredar. Satu bulan lalu, sumber Malang Post ini, masih pernah berbincang-bincang dengan Risna.

Namun setelah itu, dia tidak lagi terlihat.  Di kalangan komunitas gerejanya, Risna dikenal sebagai sosok yang ramah. Dia juga rajin melayani gereja yang terletak di sekitar kawasan Alun-Alun Merdeka Malang ini. Bahkan dari info yang digali, dia masuk dalam tim pelayanan gereja bersama anggota dari salah satu sekolah Alkitab di Malang.
Dia mencantumkan nama sekolah teologi di Malang dan mengaku berasal dari jurusan pastoral. Juga, mencantumkan civitas akademiknya, Universitas Hasanuddin TE jurusan teknologi konversi energi angkatan 1993.  Dia mencantumkan nama SMAN 2 Kolaka sebagai sekolahnya saat SMA. Hanya saja, karena sekarang dia mendekam di tahanan Polres Makota, pelayanannya harus terhenti.
Lalu, apakah dia menawarkan kredit motor dengan iming-iming pembiayaan yayasan Perempuan Indonesia Mandiri Swedia-Indonesia, sumber Malang Post mengaku tidak tahu. "Saya pernah ngobrol-ngobrol, tapi kalau sampai nawari kredit motor, gak pernah," tambahnya.

Risna sendiri saat ini dijerat dengan pasal 378-372 KUHP, dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Malang Post sendiri mencoba datang ke kediamannya di Jalan Mergan Raya V, dan mendapati rumahnya kosong. Meski kawasan itu ramai lalu lalang motor, rumah yang ada di depan persawahan itu sepi.
Saat Malang Post memanggil ke dalam rumah sebanyak tiga kali, tidak ada jawaban juga. Rumahnya tidak terlalu besar. Hanya ada sangkar burung dan nasi yang dijemur di luar. Tidak ada kendaraan bermotor yang terparkir.
Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan melalui Kabag Humas Polres Makota, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni menyebut 120 korban hasil pengembangan penyidikan, tertipu dengan berkas yayasan yang dibawa-bawa olehnya.
"Berkas yayasan dibawa saat datangi korban. Namun, saat kami cek yayasan ini tak terdaftar alias fiktif," kata Heni kepada Malang Post kemarin.
Polres Makota berharap masyarakat tak mudah menerima janji manis serta tawaran menggiurkan untuk kredit motor dari pihak yang kurang jelas asal-usulnya. "Apalagi kalau tawarannya tidak masuk akal. Kasus ini terus didalami untuk kelengkapan berkas sebelum dilimpahkan ke kejaksaan," tutupnya.(fin/ary)

Berita Lainnya :