Batal Beli Rumah, Rp 310 Juta Amblas

 
MALANG – Maksud hati ingin punya rumah murah, Henky Dimas Setiabudi, 36 tahun, warga Darmo Permai, Dukuh Pakis Surabaya, malah ketipu. Dia mengeluarkan uang Rp 310 juta tunai untuk beli rumah dari PT Dua Permata Kembar, Natha Land. Ujung-ujungnya, pekerja swasta tersebut hanya diberi janji palsu sehingga melapor ke Polda Jatim, diteruskan ke Polres Makota.
Kepada wartawan, Henky menyebut dia tertarik membeli rumah dari PT Dua Permata Kembar karena tawaran bonus murah jika beli secara tunai, Maret 2017 lalu. “Saya beli setelah cek property murah yang dekat kampus di Malang. Akhirnya, ketemu nama PT Dua Permata Kembar, yang tawarkan The Valley Residence di Joyogrand,” kata Henky.
Dia datang ke kantornya di Jalan Ki Ageng Gribig dan membayar panjar sebesar Rp 6 juta. Saat menyerahkan uang ini, Henky diiming-iming dengan bonus diskon Rp 52 juta jika membeli rumah di The Valley Residence secara tunai. Dia juga bisa mendapatkan Sertifikat Hak Milik, bebas pajak BPHTB-IMB, serta bebas biaya pengurusan di notaris.
Akhirnya, Henky pun tertarik dan membayar uang sejumlah Rp 304 juta dan dijanjikan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) pada April 2017. Ketika Henky datang ke kantor The Valley Residence, dia ditemui oleh Linda Yunus, Direktur PT Dua Permata Kembar. “Saat ketemu, ternyata tanah yang akan jadi rumah saya, masih sengketa, jelas saya kaget,” kata Henky.
Karena lahan masih sengketa, akhirnya Henky meminta pembatalan pembelian untuk mengambil lagi uang sejumlah Rp 300 jutaan tersebut. Tapi, surat pembatalan tidak diberikan oleh PT Dua Permata Kembar. Henky yang marah, diberi cek senilai Rp 310 juta untuk dicairkan di BCA. Namun, harapan Henky untuk mendapatkan uangnya pupus ketika BCA menyebut tidak ada saldo dari rekening yang tercantum dalam cek tersebut.
“Ceknya ternyata kosong. Saya kembali mendatangi PT tersebut, tapi ternyata direkturnya sudah tidak ada. Kami konsumen, dapat kabar bahwa PT itu dinyatakan pailit. Ya saya tidak terima. Sehingga, saya lapor ke Polda Jatim, sebelum diteruskan ke Polres Makota,” kata Henky. Selain dirinya, ada 11 korban lain yang juga belum mendapatkan uang pembatalan pembelian rumah.
Jika ditotal, maka jumlah kerugian para pembeli rumah adalah Rp 1,8 miliar. Hal ini tak dibantah korban yang lain, yaitu M Hajar Syaifuddin Arif, 20 tahun, warga Jalan Sebuku. Kepada wartawan, dia menyebut dia membeli rumah tipe 36 dengan luas tanah 72 meter persegi. Dia bahkan dijanjikan diskon sampai Rp 100 juta, bila beli secara tunai.
“Akhirnya saya setor Rp 261 juta, katanya harga asli Rp 360 juta. Tapi, ternyata tidak ada realisasinya. Ada 11 korban. Sekitar 5 orang bahkan sudah bayar tunai langsung seperti saya dan belum dapat realisasi sampai sekarang. Total kerugian kalau dijumlah sampai Rp 1,8 miliar,” tegas Hajar.
Sementara itu, Linda Yunus sebagai terlapor memiliki alamat di Jalan Arif Rahman Hakim IV/834 RT 02 RW 02 Kauman. Linda berusia 43 tahun. Saat rumahnya didatangi, ternyata Linda alamat tersebut palsu. “Kami sudah datang ke rumahnya, dia tak pernah tinggal di situ,” sambungnya.
Para korban berharap Reskrim Polres Makota, segera menangkap Linda untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia diduga melanggar pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan-penggelapan. Kasatreskrim Polres Makota, AKP Heru Dwi Purnomo, membenarkan adanya laporan ini. “Masih lidik,” ujar Heru kepada wartawan di Polres Makota, kemarin.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :