Tanah Rp 8 Miliar Diserobot, Sekeluarga Lapor Polda


 
MALANG - Gara-gara empat bidang tanah warisan dicaplok orang, sekeluarga asal Dusun Baran, RT16 RW06, Desa Kasri, Bululawang melapor ke Polda Jatim. Mereka melaporkan Siti Ngaisah, 73, warga Dusun Bulupayung, RT31 RW07, Desa Krebet, Bulawang.
Selain wanita ini, Junaedi, anaknya yang tinggal di Taman Graha Asri Blok EEB No 10, RT11 RW19, Kelurahan/Kecamatan Serang, Banten ikut dilaporkan.
“Mereka menguasai tanah yang bukan hak warisnya,” ungkap Padeli, 58, juru bicara pelapor.
Dia menjelaskan, empat bidang tanah seluas total 35.000 meter yang dikuasai Ngaisah itu sebenarnya adalah peninggalan dari Salikah B. Sulaiman, neneknya yang memiliki empat saudara kandung yakni Tiah, Muntamah, Iksan dan Merani. 
“Mereka sudah meninggal dunia. Anak-anak mereka juga sudah meninggal. Tinggal kami ini cucu-cucu dari keluarga mereka. Saya sendiri keturunan pak Djari, anak dari bu Tiah,” ungkapnya.
Saat itu Salikah, lanjut dia, diperistri seorang pria bernama Musa. 
“Namun Musa memiliki dua istri lagi yakni Robania dan Alwiyah,” papar petani ini.
Ngaisah merupakan anak kandung dari Alwiyah, istri ketiga Musa.
“Semua tanah milik Salikah, masih atas namanya sendiri. Bukan atas nama Musa, suaminya yang juga sudah almarhum,” terangnya.   
Padeli yang didampingi beberapa sepupunya menegaskan, secara hukum waris, Ngaisah tidak berhak mendapatkan empat bidang tanah yang lokasinya strategis itu. “Apalagi anak-anaknya Ngaisah. Sebab mereka bukan keturunan langsung nenek dan kakek kami,” tegas pria itu.  
Awal laporan ke Polda Jatim ini sendiri, setelah dia mendapat surat somasi dari Junaedi yang isinya bila empat bidang tanah senilai Rp 8 miliar di Dusun/Desa Sidomoro, Bululawang adalah tanah miliknya berdasarkan akta hibah nomor 115, 116, 117 dan 118 tahun 2017.  
“Lahan itu mau digarapnya hanya dengan dasar akta hibah,” katanya.
Melihat surat somasi dan akta hibah yang disebutkan Junaedi, ia dan sepupunya menduga ada yang tidak beres dalam pembuatan akta hibah ini. Dalam laporannya, Ngaisah dan Junaedi diduga melakukan pemalsuan surat hingga terbit akta hibah yang dibuat di Notaris/PPAT Prima Cipta Budi Santoso SH, di Ruko Persada Bhayangkara R-7 Singosari, Senin (14/8) lalu.
Mereka juga melaporkan penyerobotan tanah yang dilakukan Ngaisah dan Djunaedi tersebut.
“Kami bawa berkas-berkas riwayat empat tanah tersebut sebagai pendukung laporan kami ke penyidik Dirreskrim Polda Jatim. Kami yang berhak atas tanah tersebut,” tutupnya. 
Sayangnya, Padeli dan sepupunya juga tidak mengetahui nomor telepon Junaedi. Tidak ada seorangpun dari keluarga Ngaisah yang juga mau dikonfirmasi perihal laporan polisi tersebut.
“Saya nggak tahu,” kata seorang wanita yang berada di depan rumah Ngaisah. (mar) 

Berita Lainnya :

loading...