Dendam Kontraktor, Berbuah OTT


BATU - Proyek pembangunan GOR Gajahmada dan Taman Among Tani Kota Batu, hingga kini diduga kurang pembayaran hingga Rp 8 miliar. Padahal kedua proyek tersebut dilaksanakan tahun 2016. Kekurangan pembayaran tersebut akhirnya memupuk dendam, pihak pelaksana proyek marah. Lalu melapor ke Saber Pungli Kemenkopolhukam, akhir Juli lalu, berbuah operasi tangkap tangan (OTT) tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Batu, Kamis (24/8).
Ya, tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Batu masih diamankan tim sapu bersih pungutan liar (Saber Pungli) Kemenkopulhukam di Mapolres Batu hingga Jumat (25/8) kemarin. Mereka diamankan Satgas Saber Pungli pusat sejak Kamis (24/8) malam, namun masih berstatus sebagai saksi atas dugaan pungutan liar terhadap PT Gunadharma Anugerahjaya, pelaksana proyek GOR Gajahmada Kota Batu.
Ketiganya adalah Nugroho Widhyanto (alias Yayan) Kabid Ciptakarya, Fafan  Firmansyah (Kasi Bidang Perumahan) dan Muhamad Hafid (Kasi Ciptakarya) pada Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Pemkot Batu. Tiga orang ini ditangkap karena dendam lama. Sebab, diduga sering memeras, bahkan ada ancaman dana kekurangan pembayaran proyrek tak dicairkan.
Dari data LPSE Kota Batu, PT Gunadharma merupakan pemenang proyek pembangunan GOR Gajahmada tahun 2016. Pagu yang terpatok pada lelang melalui LPSE tersebut sebesar Rp 35 miliar untuk GOR Gajahmada. Sedangkan PT Gunadharma ditetapkan sebagai pemenang lelang pembangunan GOR Gajahmada atau sebelumnya memiliki nama lelang pembangunan Gedung Olahraga (indoor) Stadion Brantas dengan harga terkoreksi Rp 28,7 miliar dari penawaran Rp 29,09 miliar. Sedangkan pembangunan Taman Among Tani memiliki nilai sebesar Rp 10 miliar.
GOR Gajahmada maupun Taman Among Tani kini sudah selesai pembangunan proyeknya. Malahan dua proyek yang diklaim dikerjakan oleh PT Gunadharma Anugerahjaya ini masih belum terbayarkan seluruhnya meski pekerjaan sudah selesai. Kedua proyek tersebut merupakan program 2016 dan pembayaran tetap belum lunas meski sudah berganti tahun.
Tidak ada rincian berapa kekurangan dana yang belum terbayarkan dari masing-masing proyek di Kota Batu tersebut.
''Pokoknya dua proyek tersebut ada kekurangan pembayaran hingga Rp 8 miliar,'' tegas salah satu sumber Malang Post.
Sumber tersebut mengatakan, pelaksana proyek juga marah dengan oknum-oknum pada Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan. Mereka merasa dimintai beberapa pungutan, namun hingga kini pembayaran belum lunas. Malahan ada ancaman jika pihak dinas, pelaksana tidak akan dibeikan proyek kembali.
''Pungutan sudah diberikan, namun pembayaran proyek masih saja kurang. Akhirnya ada pihak yang melapor ke Saber Pungli,'' tambah dia.
Sumber lain juga menyebutkan, pelaksana proyek sudah sering mengalah kepada Dinas terkait adanya pungutan-pungutan tersebut. Mereka biasa melakukan
proyek sesuai bestek. Namun pihak dinas sering mencari-cari kesalahan untuk membuat bangunan lebih baik lagi.
Kini beberapa komponen pada GOR Gajahmada yang diambil pihak pelaksana karena belum lunasnya pembayaran. Peralatan elektronik hingga papan skor dengan nilai ratusan juta rupiah tidak ada lagi.
Kekurangan pembayaran utang proyek senilai Rp 8 miliar tersebut diperkuat adanya alokasi pada Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) 2017 yang baru disahkan. Pada P-ABPD tersebut terdapat alokasi dana Rp 8 miliar yang digunakan untuk membayar utang.
''Seingat saya ada dana Rp 8 miliar untuk pembayaran utang yang tertunggak dari program 2016,'' ungkap Hely Suyanto, salah satu anggota Komisi C DPRD Kota Batu.
Alokasi pembayaran utang itu dilakukan berdasarkan rekomendasi dari BPK RI dalam pemeriksaan APBD tahun 2016 sekitar Maret lalu. BPK memberikan rekomendasi kekurangan pembayaran proyek harus dilakukan sehingga Pemkot Batu mengalokasikan dalam P-APBD 2017 ini.(feb/dan/ary)

Berita Lainnya :