Warga Luruk Polsek Pakis Saat Idul Adha

 
MALANG - Tepat perayaan Hari Raya Idul Adha 1438 H, puluhan warga Dusun Ngrobyong, Desa Pakisjajar, Kecamatan Pakis,  ngluruk Mapolsek Pakis, Jumat (1/9), kemarin. Mereka datang sekitar pukul 10.30 WIB dengan mengendarai puluhan motor. Warga ngluruk lantaran salah satu warga, Novi Nur Fita, 25 tahun, ingin mengetahui kelanjutan penanganan kasus penganiyaan terhadapnya.  Pasalnya, Novi sempat dianianya tetangganya, Pa’at, 50 tahun.  
Setelah dilaporkan, ternyata dirasa belum ada tindak lanjutnya. Akibatnya, warga pun ngluruk Mapolsek.
Diungkapkan Mislan, suami Novi, kejadian bermula saat ada giat lomba mewarnai di Dusun Lowoksuruh, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Sabtu (26/8) lalu. 
“Kejadiannya saat lomba, dimana isteri saya ditendang kakinya hinga memar. Dengan permasalahan yang tidak diketahui Pa’at menendang kaki isteri saya. Untuk kemudian setelah peristiwa itu saya laporkan ke Polsek Pakis, dengan hasil visumnya sebagai alat bukti. Namun hinga hari ini (Jumat, Red) tidak ada tindak lanjut dari laporan tersebut,” ujar Mislan kepada wartawan di Polsek Pakis.
Novi yang menjadi korban penganiayaan, juga tidak mengetahui alasan pasti kenapa dirinya ditendang. 
”Saya tidak tahu sama sekali alasan dia menendang kaki saya. Seingat saya, dia menendang kaki saya hingga memar dan menghina saya. Kata-kata yang keluar, saya gemuk dan menghabiskan tempat. Sementara kata orang dia tersinggung karena mejanya tersenggol oleh saya saat lomba lomba mewarnai,” terang Novi.
Dengan kejadian yang dialaminya tersebut, Novi langsung melaporkan kasus penganiayaanya ke Polsek Pakis. 
Dari penuturan warga, Pa’at sebagai pendatang dikenal sering berulah dan merasa sok jagoan. Bahkan kepala desa sempat ditantang carok.
Salah satu warga, Jupri, 50 tahun, juga mengaku pernah dibacok Pa’at. Kejadian yang menimpanya sudah lama. Ia menceritakan, jika saat itu dirinya sedang mengali pondasi bersama anaknya. Tidak sengaja anaknya melihat Pa’at  dan langsung tersingung. 
“Mungkin karena merasa tersinggung, Pa’at kemudian mencekik anak saya. Anak saya lalu melompat ke arah saya dan Pa’at langsung membacok pungung dan menginjak leher saya. Beruntungnya saya tidak terluka saat itu,” kenang Jupri.
Namun Jupri saat itu tidak mau melapor ke Polisi dengan alasan dirinya tidak terluka sama sekali. 
Melihat kelakuan Pa’at yang semakin hari mengkhawatirkan tersebut, warga makin geram akhirnya sepakat melaporkan ke Polsek Pakis dengan mendatangi beramai-ramai. Itu bertujuan agar proses laporan penganiayaan yang dilakukan segera ditindak lanjuti pihak Polsek. 
“Kami datang bersama-sama ke Polsek Pakis untuk meminta agar proses pelaporan Novi segera ditanggani. Sehingga Pa’at secepatnya ditahan, karena kelakuanya sudah sangat merugikan dan meresahkan warga,” beber Jupri.
Kapolsek Pakis, AKP. Hartono,S.Sos kepada Malang menjelaskan jika masalah yang terjadi hanyalah miskomunikasi antara pihak Polsek dengan warga. 
“Seharusnya warga tidak usah berduyun-duyun datang kesini, cukup perwakilan keluarga korban. Dengan langsung menemui saya untuk mengungkapkan permasalahan,” tegasnya.
Hartono juga membantah jika pihaknya memperlambat kasus penganiayaan itu. “Kami tidak mengulur-ngulur waktu, sebelumnya kami sudah memanggil beberapa saksi. Namun diantara saksi tersebut tidak bisa hadir. Dimana kasus baru terjadi minggu kemarin,” bebernya.
Menurutnya jika beberapa saksi yang dipanggil datang sesuai dengan waktu, untuk menyelesaikan penyidikan terhadap kasus itu hanya membutuhkan waktu dua minggu. Dengan beramai-ramainya warga yang datang tepat di hari raya Idul Adha itu, pihaknya langsung menjemput Pa’at di kediamannya usai Salat Jumat untuk menjalani proses penyidikan.(eri/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :