Bocah 16 Tahun Otaki Pembunuhan

 
MALANG – MT, 19 tahun, warga Jalan Kalianyar Wonokoyo, diduga menjadi eksekutor utama yang menusuk leher Zainuddin, 21 tahun, hingga meninggal di Taman Rolak, Kawasan Buring, Kecamatan Kedungkandang. Namun, inisiator perencanaan pembunuhan Zainuddin, diduga adalah inisial FI, 16 tahun, warga Jalan Kalisari Wonokoyo.
Hal ini terungkap dalam rilis Polres Makota dalam ungkap pembunuhan Zainuddin di mako Jalan JA Suprapto, siang kemarin. 
“MT diduga jadi eksekutor yang membunuh Zainuddin di Taman Rolak,” kata Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan. 
Selain Taufik dan FI, tersangka lain yang diamankan adalah YDS, 21 tahun dan adiknya pria inisial SFS, 16 tahun warga Jalan Kalisari Wonokoyo.
Lalu, MM, 26 tahun dan adik perempuannya inisial ID, 17 tahun, warga Muharto, Kotalama. Menurut Kapolres, enam tersangka, punya peran masing-masing dalam pembunuhan. Rencananya, reka ulang untuk memperlihatkan kronologi pembunuhan korban, bakal digelar di TKP kebun singkong Taman Rolak, pagi ini.
Kapolres Makota, dijadwalkan mengawasi langsung proses reka ulang tersebut, didampingi tim reskrim pimpinan Kasatreskrim Makota AKP Heru Dwi Purnomo. 
“Semua tersangka punya peran masing-masing, ada yang menarik, ada yang memegangi, ada yang mengikat leher korban dengan sabuk, ada pula yang menusuk atau menggorok korban,” kata mantan Densus 88 tersebut.
Harta dan asmara, menjadi motif utama pembunuhan terhadap Zainuddin. AKP Heru menjelaskan, Zainuddin adalah mantan pacar dari ID. Sedangkan, YDS saat ini adalah pacar ID. 
“Zainuddin tukar HP dengan ID, lalu hape ID digadaikan oleh Zainuddin. Dia datang ke rumah ID pada hari kejadian. Dia minta HP-nya kembali, tapi tak diberi oleh ID. Saat diminta uang sebagai ganti HP, Zainuddin tak mau beri, sehingga ID memanggil kakak dan pacarnya,” kata Heru.
MM dan YDS pun datang ke tempat ngopi area Rampal, untuk menemui Zainuddin dan ID. Saat bernegosiasi, kedua pihak tidak ada titik temu. Bahkan, Zainuddin sempat mengeluarkan kata kasar kepada mereka. YDS pun menghubungi adiknya SFS beserta temannya FI, dan MT.
“Walaupun sudah didatangi banyak orang, tidak ada solusi. Sehingga, akhirnya mereka berniat memukuli korban. Tapi, oleh FI dilarang karena setelah dipukuli akan lapor polisi. Dia, mengusulkan untuk menghabisi korban. Semua tersangka lain setuju,” jelas Heru. Dari situ, tiga orang pergi ke rumah untuk mengambil tiga bilah pisau.
Sementara, tiga orang lain, mengajak Zainuddin keliling mencari lokasi yang pas untuk pembunuhan, dengan dalih mencari tempat ngopi lain. Mereka sempat datang ke Velodrom namun mengurungkan niatnya karena ramai. Akhirnya, para tersangka memilih lokasi seberang Taman Rolak yang gelap dan tak banyak dilewati orang.
Setibanya di lokasi, Zainuddin dipaksa turun, dan langsung diserbu pukulan dan tendangan serta sabetan pisau. “Korban melindungi kepalanya dengan tangan, sehingga muncul bekas luka sabetan di area lengan itu. Dia dihajar dan terjatuh ke bawah di kebun singkong lalu naik lagi untuk minta maaf. Tapi ditendang lagi oleh tersangka sebelum berusaha lari,” kata Heru.
Para tersangka, terus menyabet dan memukul kepala serta badan korban dengan pisau maupun kayu serta bambu. Namun, para tersangka merasa capek karena korban tak kunjung mati. Mereka menyergap korban 25 meter dari lokasi jatuh yang pertama. MM memegang tangan kiri, ID memegangi kaki, YDS membacoki korban, FI dan SFS membacok dan memukul, sementara MT menendang.
ID, lalu mengusulkan agar YDS melepas celana korban karena menduga ada jimat kebal. Setelah celana dilepas, YDS meminjam sabuk MM, mengikat leher Zainuddin, serta menginstruksikan MT, untuk mencoblos leher korban hingga meninggal. “Coba copot celananya, kayaknya pakai sikep,” ujar Heru, menirukan kata-kata ID saat dimintai keterangan.
Setelah menghabisi korban, celananya dibuang di sungai, serta menyimpan senjata pembunuh di rumah tersangka. MM dan adik perempuannya ID belum sempat melarikan diri ketika tertangkap di hari pertama usai mayat Zainuddin ditemukan. Sementara, empat tersangka lain lari ke Lumajang Harjokuncaran.
“Fanny, FI dan SFS ditangkap di Gadang hari kedua, saat perjalanan dari Lumajang ke Malang. MT ditangkap di rumah saudaranya di Wonokoyo. MT berniat melarikan diri ke Jakarta, dan sudah jual motor, tapi sudah tertangkap oleh personel kami,” tambah Heru. 
Mereka semua, terancam maksimal hukuman mati karena dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsidair 338 KUHP.
Sementara itu, adanya tiga tersangka di bawah umur, mendapat respon dari Balai Pemasyarakatan Kelas 1 Malang. Kabapas Kelas 1 Malang, Sudirman Zainuddin, menyebut bahwa tiga tersangka di bawah umur sulit diselamatkan UU Perlindungan Anak. Sebab, aturan diversi, yaitu solusi hukum di luar pengadilan untuk anak, tidak bisa dipakai bagi tersangka dengan ancaman hukuman di atas 7 tahun.
“Kalau di bawah 7 tahun masih bisa, kalau kena pasal 340 KUHP, sepertinya tidak bisa. Namun, sistem peradilan Indonesia tetap akan mencarikan mana yang terbaik untuk mereka yang di bawah umur,” kata Sudirman.(fin/jon)

Berita Lainnya :