Reka Ulang Pembunuhan di Kedungkandang Dijaga Ketat


MALANG – Suasana reka ulang perkara pembunuhan Zainuddin di Taman Rolak, mengundang animo warga. Ratusan masyarakat nonton langsung adegan demi adegan pemukulan, pembacokan hingga penusukan leher yang dilakukan enam tersangka di kebun singkong, seberang Taman Rolak, pagi hingga siang . Kendati tak bisa melihat dari dekat karena garis polisi, warga sangat antusias dan penasaran, dengan enam tersangka yang diduga membunuh secara keji. Warga hanya bisa melihat dari Taman Rolak seberang lokasi pembunuhan.
Syahroni, salah satu pengguna jalan yang lewat, mengaku penasaran karena banyak berkumpul warga.
“Saya tahunya baca di koran, penasaran pingin lihat wajahnya yang bunuh seperti apa,” ujar warga Buring, Kedungkandang tersebut, kemarin.
Masyarakat menunggu di lokasi kejadian sampai proses rekonstruksi kejadian selesai. Setelah usai, mereka langsung mengerubuti enam tersangka yang dikawal polisi masuk ke mobil tahanan.
Menurut Sujiati, warga Madyopuro, peristiwa pembunuhan itu jadi buah bibir karena kisah asmara yang mengiringinya.
“Kita ingin tahu, seperti apa wajah cewek yang muncul di Facebook, cewek yang tega bunuh temannya sendiri. Setahu saya, dia janda kan ya, terus yang itu ternyata bukan suaminya ya, cuma pacar,” jelas wanita 40 tahun itu.
Dia mengaku geram karena urusan handphone seharga Rp 500 ribu bisa sampai merenggut nyawa orang lain.
Sementara itu, rekonstruksi kejadian pembunuhan, dilakukan mulai pukul 09.30 WIB sampai siang hari. Para tersangka dikawal polisi bersenjata lengkap. Enam orang tahanan ini juga memakai seragam tahanan, dan diborgol.
Bahkan, area rekonstruksi, steril dari awak media dan masyarakat. Kasatreskrim Polres Makota, AKP Heru Dwi Purnomo menyebut, reka ulang dipakai untuk memperkuat berkas perkara. “Kita pakai boneka sebagai pengganti reka ulang korban yang dibunuh oleh enam tersangka,” kata Heru dikonfirmasi kemarin.
MT, 19 tahun, FI, 16 tahun, YDS, 21 tahun, SFS, 16 tahun, MM 26 tahun dan perempuan inisial ID, 17 tahun, diduga berkomplot untuk menghabisi nyawa Zainuddin di Taman Rolak. Keenamnya, terkena pasal 340 KUHP dengan potensi ancaman penjara di atas 7 tahun hingga maksimal hukuman mati.
Sementara itu, pakar psikologi UB, Ari Pratiwi, S.Psi, M.Psi menyebut dia perlu mendalami latar belakang tiap orang untuk mengetahui kondisi psikologis secara tepat. Namun, dia membuat dua kemungkinan utama, bagi remaja yang bisa melakukan pembunuhan, bahkan menjadi otak atau perencananya.
“Pertama, kemungkinan ada gangguan psikologis, misalnya psikopat. Ini pun masih harus dicek dulu apakah benar. Ciri-cirinya tidak ada empati, tak ada rasa bersalah. Ciri ini muncul, jika mereka berkali-kali melakukan tindak kekerasan pada korban hingga empatinya tumpul,” tegas Ari dikonfirmasi Malang Post, kemarin.
Jika ciri-ciri ini tak ditemukan dari para tersangka, maka Ari memprediksi kemungkinan lain. Yakni, faktor kesulitan mengontrol impuls dan perilaku. “Mereka tak bisa kontrol perilaku, karena tidak terbiasa melakukan itu. Tidak terbiasa mengendalikan diri ini bisa muncul sejak anak-anak, utama karena faktor lingkungan yang kurang perhatian, tidak diajarkan tentang aturan dan mengendalikan perilaku. Makin lama, makin dewasa, tidak bisa memahami mana yang melanggar aturan dan mana yang tidak,” kata Ari.
Untuk pelaku lain, Ari memprediksi ada kemungkinan hanya ikut-ikutan demi konformitas kelompok. Para remaja ini, juga tumbuh di lingkungan dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah. Dua tersangka berasal dari kampung kumuh Muharto. Empat sisanya dari area Wonokoyo-Bumiayu.
“Mungkin secara intelektual kurang, sehingga tak bisa menganalisa masalah serta tak bisa cari jalan keluar yang baik. Akhirnya ambil jalan pintas. Penanggulangan untuk mereka agak sulit, karena harus banyak pihak terlibat, orangtua, pemerintah dan lingkungan sosialnya,” tutup Ari.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :