Angkat Terorisme, Kapolres Mahkota Raih Doktor

 
MALANG – Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan menjalani wisuda setelah lulus sidang doktoral hukum di FH UB. Kemarin, Hoiruddin menjadi satu dari 1101 orang yang diwisuda oleh Rektor UB Prof M Bisri di gedung Samanta Krida UB Malang. Seluruh pejabat utama di lingkungan Polres Makota, ikut mengantarkan Hoiruddin dan keluarga dalam acara wisuda.
“Alhamdulilah, Kapolres bisa menjalani wisuda doktoral dengan lancar. Beliau berterimakasih atas dukungan dari semua pihak, mulai dari Mabes Polri, Polda Jatim, serta keluarga dan kolega, sehingga sidang doktoral Kapolres berjalan lancar, dan bisa diwisuda,” kata Kasubag Humas Polres Makota, Ipda Marhaeni kemarin.
Selain ditemani keluarga, Kapolres juga dikawal Wakapolres Kompol Nandu Dyananta, Kabag Ops Kompol Dodot Dwianto, para kepala satuan hingga para kapolsek. Setelah wisuda kampus UB dimulai pukul 07.30 WIB dan selesai pukul 10.55 WIB, Kapolres langsung disambut sorak sorai anggota Polres Makota.
Dia bahkan dipanggul oleh para anggota Polres sebagai ungkapan rasa syukur atas wisuda doktor tersebut. Rektor UB menyebut Hoiruddin adalah wisudawan istimewa. “Wisuda UB pada hari ini cukup istimewa. Karena kita punya wisudawan khusus, yaitu Kapolres Malang Kota, yang mengambil program pasca sarjana dengan gelar doktor di Fakultas Hukum,” jelas Bisri.
Hoiruddin sebelumnya menjalani sidang doktoral di Fakultas Hukum pada 15 Agustus. Dia membawakan disertasi doktoral berjudul Reformulasi Kebijakan Deradikalisasi Terhadap Mantan Narapidana Terorisme Dalam Upaya Penanggulangan Terorisme di Indonesia. Kapolres mengangkat tema ini, karena dia merupakan mantan anggota Densus 88, spesialis peredam terorisme di Indonesia.
Dia mengkritisi kebijakan deradikalisasi teroris di Indonesia yang belum efektif. Data hasil penelitiannya menyebut, 35 pelaku teroris di Indonesia, sudah pernah jadi napi teroris yang tertangkap. Dari 451 teroris, 7,76 persen masih melakukan terorisme. Karena, Hoiruddin berkaca pada munculnya kasus bom Thamrin, hingga penyerangan Kampung Melayu.
Kebijakan deradikalisasi bisa disebut sukses, jika sudah tak ada napi teroris yang melakukan aksi teror. Hoiruddin disidang empat profesor dan dua doktor, yakni Prof I Nyoman Nurjaya, Prof Sudarsono, Prof Abdul Rahmat Budiono, Prof Didik Endro, Dr Rahmad Safaat dan Dr Bambang Winarno.
Dr Bambang Sugiri menjadi promotor doktoral Hoiruddin. Dia meraih gelar doktoral dengan predikat cumlaude, karena nilai indeksnya 3,90 atau A, dengan masa studi tiga tahun.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :