magista scarpe da calcio Bayi Dibuang di Tegalgondo


Bayi Dibuang di Tegalgondo

 
MALANG – Polisi dan masyarakat harus bertindak tegas kepada para pembuang bayi yang semakin sering terjadi di wilayah Malang Raya. Setelah di Batu, Karangbesuki dan Jatikerto, kini giliran di Karangploso ditemukan bayi dalam kondisi mati, Sabtu (9/9), kemarin sore. Jika tidak, pembuangan terhadap bayi tak berdosa akan terus terjadi.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu dibuang di barongan di dekat Sungai Selatan, Dusun Ketangi, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Pertama kali yang menemukan bayi naas itu, Sugiono, warga RT 39 RW 08, Dusun Ketangi, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso. Saat itu ia pergi ke sungai di sekitaran rumahnya bersama kedua temannya. Mereka bermaksud mencari ikan menggunakan setrum rakitan.
Sugiono turun ke sungai sendirian mencari ikan, sedangkan kedua temannya berada di area persawahan di atas sungai. Setelah dirasa cukup atas hasil buruannya, Sugiono hendak naik ke sawah, namun  melihat sesosok bayi yang sebelumnya diduga boneka. 
Melihat benda mencurigakan itu, Sugiono mendekat untuk memastikan. Ternyata benar, yang dilihat adalah sosok bayi dan ia segera memberitahu kedua temannya.
“Langsung saya tutup daun tubuh bagian bawahnya, lalu saya lepas kaos juga untuk menyelimuti mayat bayi tersebut. Sebelumnya kami tidak ada yang tahu jenis kelamin bayi tersebut karena tubuhnya banyak dipenuhi ranting dan sampah. Namun setelah dimandikan baru kami bisa mengetahui bahwa bayi itu laki-laki,” kata Sugiono kepada Malang Post. 
Sugiono mengaku, saat ditemukan, ari-ari bayi tersebut tersangkut pada sebuah ranting. Jika tidak,  bayi tersebut hanyut di sungai dan kemungkinan tidak dapat ditemukan.
“Benar, kami mendapatkan laporan dari kepala dusun sekitar pukul 17.30 WIB dan kami segera menuju TKP untuk memastikan” papar Kapolsek Karangploso AKP Farid Fathoni ketika ditemui Malang Post. 
Farid menjelaskan, untuk analisa sementara dari tim penyidik, mayat bayi laki-laki yang ditemukan merupakan hasil kelahiran premature dikarenakan kondisi bayi yang kecilnya dirasa kurang normal.
“Kami masih belum menemukan modus operandi terbunuhnya bayi tersebut, apakah langsung diceburkan ke sungai hidup-hidup atau dimatikan terlebih dahulu,” imbuh Farid.(mg1/jon)

Berita Lainnya :