Kapolres: Stop Bullying di Sekolah

 
MALANG – Upacara bendera di SMAN 3 Malang yang digelar setiap hari Senin, terasa istimewa, (11/9) kemarin. Jika biasanya pemimpin upacara dilakukan oleh kepala sekolah atau guru, namun kemarin  langsung oleh Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan.
Pria yang baru saja meraih gelar doktor itu menyampaikan perhatian terhadap isu bullying atau perundungan di sekolah-sekolah di Kota Malang. Ia berharap, para peserta didik bisa menjunjung tinggi rasa pertemanan dan menjauhi perundungan terhadap sesama siswa. 
Isu Bullying, disampaikan sejajar dengan bahaya narkoba dan ancaman ajaran radikal. Karena, Kapolres menganggap tiga hal ini, akan menentukan masa remaja para siswa. 
“Jauhi narkoba, hentikan dan jauhi tindakan bullying, serta hindari ajaran-ajaran yang menjurus ke paham radikal,” kata Hoiruddin.
Menurut Kapolres, perundungan bukan hal baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Namun, dia menyebut kasus-kasus yang berkaitan dengan bullying, harus ditanggulangi lewat pendekatan yang berbeda. Yakni, menjaga fokus para peserta didik ketika menjalani proses pendidikan di sekolah.
Sehingga, peserta didik, tidak sempat melakukan hal tak bermanfaat seperti bullying. “Harus fokus pada satu hal, yaitu perjalanan mencapai cita-cita. Selain itu, konsentrasikan diri kepada 3 DB, disiplin belajar, disiplin beribadah dan disiplin berolahraga, karena tugasmu adalah belajar dan berprestasi,” kata Hoiruddin.
Mantan anggota Densus 88 anti teror tersebut mengatakan, kecerdasan emosional para peserta didik, juga harus diasah. Remaja harus meningkatkan kemampuan dalam menjaga hubungan baik dengan teman sebaya, santun kepada guru, serta punya kesadaran untuk menyenangkan hati orang tua.
Sementara itu, Kasat Binmas Polres Makota, AKP Nunung Anggraeni menegaskan, tahun 2017 ini, kasus perundungan mengalami penurunan drastis.“Hampir tidak ada ya, beda dengan tahun-tahun lalu, termasuk saat ada perundungan, orangtua sampai ikut campur memukul anak yang dirundung juga,” tegas Nunung.
Dia mengatakan, pihak Polres Makota, siap menjadi fasilitator apabila ada kasus yang berbau bullying. Dia juga berharap agar tak ada kasus bullying seperti yang dialami Muhammad Farhan, mahasiswa berkebutuhan khusus Universitas Gunadarma Jakarta. Video bullying yang dilakukan oleh 20 orang terhadap Farhan, menyebar luas di media sosial dan membuat netizen geram.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :