36 Bulan Kerja Keras Bayar Tagihan, Berharap Tidak Molor


PEMBATALAN pailit Koperasi Serba Usaha (KSU) Montana yang dikabulkan hakim Pengadilan Negeri (PN) Niaga Surabaya, menjadi pertaruhan bagi para pengurusnya. Sebab, dalam waktu 36 bulan, mereka harus mengembalikan tagihan yang sudah disetujui oleh kreditor dalam rapat pencocokan piutang, 16 Juni 2017 lalu.
BEBERAPA deposan yang minta namanya dirahasiakan, meminta KSU Montana bekerja keras menyelesaikan ini. Mereka mengaku memilih mengikuti perdamaian, agar uang yang sudah ditanamkan ke koperasi itu, bisa segera kembali.
“Saya tahu kalau permasalahan gagal bayar karena banyak PNS yang tidak membayar,” tutur salah satu deposan yang tinggal di kawasan Jalan Dieng Malang. Ia mengaku sengaja menghubungi Malang Post agar unek-uneknya tersampaikan kepada pengurus koperasi.
“Saya berharap keputusan tentang skema pembayaran harus ditepati koperasi. Termasuk juga dengan kami, para kreditor juga akan menepati apa yang sudah disetujui. Yang penting, cicilan pembayaran dari koperasi bisa lancar berjalan,” ungkapnya.
Senada dengannya, salah satu deposan yang berasal dari Lawang,  juga meminta KSU Montana untuk segera membuka kantor-kantornya, sebagai tempat komunikasi dengan para ribuan kreditor yang mengikuti rapat voting perdamaian.
Seperti diketahui, dari hasil verifikasi, KSU Montana hanya memiliki tagihan tetap sebesar Rp 38 miliaran yang harus dibayarkan ke 86 deposan. Padahal, sebelumnya koperasi ini mendapat tagihan dari 86 deposan sebesar Rp 152,9 miliaran.
Ini terungkap saat rapat pencocokan piutang atau verifikasi di Pengadilan Negeri (PN) Niaga, Surabaya. Dipimpin hakim pengawas, Deddy Wardiman, SH, MH, menyatakan total tagihan terhadap deposan hanya Rp 38 miliaran.
Seperti Deana Widjaja, pemohon pailit dan Ivo Kristiana. Antara penagihan dengan hasil verifikasi tidak sama. Dalam akta perdamaian kepailitan KSU Montana, tertulis tagihan Deana Widjaja sebesar Rp 2.180.000.000.
Namun dalam verifikasi diketahui hanya sebesar Rp 637.350.060.  Sementara Ivo Kristiana, tagihan yang diajukan melalui kurator sebesar Rp 8.554.400.000, tetapi setelah diverifikasi dalam.pencocokan piutang hanya Rp 1.609.422.077.
Ketua Balai Harta Peninggalan (BHP) Surabaya, Dulyono mengatakan KSU Montana sebagai debitor menyelesaikan kewajiban kepada para kreditor dengan skema per semester dan akan dilaksanakan selama 36 bulan.
“Pembayaran dilakukan secara bertahap atau cicilan dan akan segera dilaksanakan setelah enam bulan, setelah ada persetujuan. Jadi jumlah tagihan yang harus dibayarkan adalah sesuai dengan yang sudah disetujui kreditor,” terangnya.
Skema yang dimaksud, Semester I (1 - 6 bulan) masuk dalam tahap penagihan dan pelelangan. Lalu Semester II (7 – 12 bulan) dilakukan tahap pembayaran 25 persen dari tagihan. Semester III (13 – 18 bulan), kembali melakukan penagihan dan pelelangan.
Masuk Semester IV (19 – 24 bulan), membayar 50 persen dari tagihan. Selanjutnya, Semester V (25 – 30 bulan), KSU Montana melakukan penagihan dan pelelangan. Dan terakhir, Semester VI (31 – 36 bulan), kreditor menerima pembayaran terakhir atau 25 persen dari tagihan.
Ketua KSU Montana, Dewi Maria mengaku hingga sekarang pengurus dan kuasa hukum koperasi, Barlian Ganesi, SH, MH terus menyusun rencana penagihan dan beberapa aset yang sudah bisa dilelang untuk pembayaran tersebut.
Ia menegaskan, pembayaran pertama tagihan kepada kreditor atau Semester II sebesar Rp 7,7 miliaran, pembayaran kedua atau Semester IV, dilakukan hingga Rp 15,5 miliaran dan terakhir atau Semester VI, kembali dibayarkan Rp 7,7 miliaran. (mar)

Berita Lainnya :

loading...