3 Pengguna Sabu Jalani Asesmen


MALANG - Tiga pengguna narkotika jenis sabu-sabu yang ditahan di Polres Malang menjalani asesmen terpadu, Rabu (22/5). Asesmen terpadu ini dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang. Ketiganya adalah YDT, warga Kecamatan Wagir, ABK, warga Kecamatan Pagelaran serta MTA, warga Kecamatan Gondanglegi.
"Asesmen terhadap ketiganya ini untuk mengetahui apakah terlibat jaringan pengedar, pecandu atau hanya korban. Hasil dari asesmen ini, akan dilampirkan dalam berkas perkara sebagai pertimbangan Hakim, untuk membuat putusan," ungkap Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut CPM Agus Musrichin.
Menurutnya, asesmen yang dilakukan oleh BNN ini adalah wujud dari implementasi Undang-undang nokor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, terutama pada pasal 54 dan 127. Serta surat edaran Mahkamah Agung No: 04 tahun 2010 dan peraturan bersama tujuh lembaga kementerian yang ditandatangani 11 Maret tahun 2014,  tentang penanganan pecandu atau korban penyalahgunaan narkotika ke dalam rehabilitasi.
"Mereka ini menggunakan narkoba untuk dirinya sendiri, tidak terindikasi terlibat dalam peredaran gelap narkoba. Namun demikian tetap perlu dilakukan asesmen terpadu," terangnya.
Dikatakannya, bahwa orang yang memakai narkotika secara sadar dan berulang kali, dikategorikan sebagai pecandu. Sebab ada gejala ketergantungan dari efek rasa yang dirasakan. Sedangkan disebut korban penyalahgunaan narkotika, ketika mengonsumsi tanpa sepengetahuan dirinya dan tidak ada niatan untuk mengonsumsi.
"Latar belakang yang menjadikan orang mengonsumi narkotika, karena sebagai dopping kerja, serta karena atas bujuk rayu teman, bahwa zat yang dikonsumsinya adalah jamu," jelasnya.
Tim asesmen terpadu ini merupakan gabungan dari beberapa instansi. Pertama adalah tim asesmen hukum, yang terdiri penyidik BNN, Polri serta Jaksa. Tugas tim ini menganalisa keterlibatan tersangka dari sisi tindak pidana.
"Satu lagi yaitu tim psikolog BNN, yang merupakan Tim Asesmen Medis. Tim ini berfungsi menentukan tingkat adiksi atau kecanduan tersangka sekaligus  kondisi fisik dan psikisnya setelah menjadi penyalahgunaan narkoba," bebernya.
Sementara itu, dalam asesmen mereka mengaku menyalahgunakan sabu-sabu (SS), karena ajakan teman. MTA, yang bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke di Kepanjen dan, YDT sebagai sopir travel sekaligus taksi online ini mengatakan bisa menikmati SS lantaran diajari temannya.
Termasuk juga dengan ABK, yang mulai mengonsumi SS karena ditinggal kerja oleh istrinya ke luar negeri. Sehingga ketika ada ajakan teman menggunakan sabu untuk menghilangkan penat, ABK langsung mengiyakan.(agp/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :