Tak Dimakan, Tapi Dihisap Darahnya



MALANG – Pihak desa Tegalgondo ikut turun tangan untuk menangani kasus tewasnya domba-domba akibat serangan hewan buas. Kades Tegalgondo Nur Mahmud, kepada wartawan, mengakui peristiwa dua hari berturut-turut ini, sudah meresahkan masyarakat Ketangi, yang sebagian besar punya hewan ternak.
“Kami segera lakukan rapat dengan warga, malam ini (kemarin), untuk mengantisipasi agar tak ada domba yang mati lagi,” kata Mahmud.
Dia mengaku baru kali ini mengetahui ada kejadian seperti ini di Tegalgondo. Sebelumnya, ternak warga kampung Ketangi aman-aman saja tanpa gangguan binatang buas.
Dia menegaskan, pihaknya siap mengkoordinasi warga, untuk berjaga di kandang-kandang domba yang bisa jadi sasaran hewan buas tersebut. Pihak desa penasaran, sebenarnya seperti apa bentuk hewan yang melakukan penyerangan terhadap hewan ternak milik warga. Karena, pengakuan pemilik ternak menyebut mereka tak mendengar suara apapun saat terjadi pembantaian terhadap domba-domba ini.
“Kami kaget karena belum pernah ada sebelumnya di Tegalgondo, apalagi dua hari berturut-turut,” tambahnya.
Sementara itu, petugas teknis Dinas Peternakan Kabupaten Malang, Subono yang kembali ke lokasi dua hari berturut-turut, mengaku sudah melihat sebuah pola dari pembantaian terhadap para domba tersebut.
“Kami lihat domba-domba yang jadi sasaran, sedang hamil. Lalu, hewan buas, yang kami duga memiliki tinggi 50 sentimeter itu, tidak memakan semua, hanya sedikit saja. Tapi, mereka lebih banyak menyedot darah domba,” sambung Subono.
Saat mendatangi kampung Ketangi, Subono tetap merawat domba yang masih hidup walaupun sekarat. Meski demikian, domba-domba yang sudah diserang oleh hewan buas tersebut, tidak bisa bertahap hidup lebih lama.(fin/lim)

Berita Lainnya :