Tandatangan Rektor UB Dipalsu



MALANG – Kasus penipuan terhadap calon mahasiswa UB seperti tak ada selesainya. Setelah perkara yang melibatkan anggota DPRD Subur Triono, kini muncul pemalsuan surat tanda lulus Seleksi Mandiri UB (SMUB) yang mencatut nama Prof M Bisri, Rektor UB. Korbannya adalah calon mahasiswi berinisial TF, 17 tahun, asal Malang, yang mengeluarkan uang ratusan juta rupiah demi masuk ke jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik UB. Terungkapnya kasus penipuan dan pemalsuan tanda tangan ini, berawal dari keterkejutan Bisri, ketika menerima keluhan calon mahasiswa yang mengantongi surat keputusan rektor tersebut. Sebab, keputusan kelulusan calon mahasiswa tidak tertuang dalam surat  seperti yang dipegang oleh TF.
“Saya laporkan ke Polres Makota karena pemalsuan surat. Saya sampai heran, kok bisa nama dan tanda tangan saya dipalsu. Setelah laporan, saya serahkan sepenuhnya, proses hukum kepada kepolisian, untuk mengungkap siapa pelakunya,” jelas Bisri.
Pihaknya melapor ke Reskrim Polres Makota pada 12 September lalu, sembari membawa barang bukti berupa tanda kelulusan SMUB yang palsu. Sementara itu, Ketua Tim Advokasi Hukum UB, Dr Prija Djatmika menegaskan, terbukanya kasus tanda tangan palsu rektor UB, berawal dari keluhan calon mahasiswa baru yang ikut ujian Seleksi Mandiri UB.
“Kejadian berawal dari staf akademik FT UB, yang didatangi oleh calon mahasiswa inisial TF, di bawah umur, SMA asal Malang. Dia mengaku punya surat rektor yang bisa membuatnya kuliah di Teknik Industri FT UB,” kata Prija kepada Malang Post, dikonfirmasi kemarin.
Prija menyebut, TF bertemu dengan oknum karyawan UB yang diduga kuat jadi pelaku pemalsuan, pada Juli 2017. Orangtua TF, diberi janji bahwa anaknya bisa masuk ke jurusan yang diinginkan, dengan permintaan sejumlah uang. Prija mengaku tidak tahu, berapa jumlah uang yang disetorkan kepada oknum.
“Sepertinya ratusan juta, antara Rp 100 sampai Rp 300 juta, sekitaran itu lah,” ungkap Prija. Uang tersebut, sebagai biaya membuat surat keputusan rektor yang membolehkan TF kuliah di Teknik Industri FT UB. Surat yang diterima oleh TF, ditandatangani oleh rektor pada 11 Juli 2017.
Dengan surat ini, TF tidak perlu lagi melihat pengumuman kelulusan seleksi mandiri di internet pada 27 Juli 2017 lalu. Selain itu, Prija menyebut bahwa TF mengaku diinstruksikan oleh oknum karyawan UB ini, untuk datang daftar ulang pada 4 September 2017. Prija menduga, oknum tersebut menghindari korban curiga.
“Korban diperintahkan daftar ulang ke FT UB pada 4 September, untuk mencegah korban ikut ospek dan meminimalkan kecurigaan korban bahwa dia telah ditipu,” kata Prija.
Begitu datang ke FT UB pada 4 September, pihak akademik tidak menemukan adanya data dari mahasiswi bersangkutan. Ketika TF menunjukkan surat keputusan rektor yang ia pegang, pihak akademik FT pun mengarahkan TF ke rektor UB. Dari sinilah, pemalsuan surat dan tanda tangan rektor ini terbongkar. Prija merinci, surat keputusan tersebut, sangat menyerupai surat resmi. Kop surat formal lengkap dengan redaksional yang meyakinkan, membuat TF kian percaya.
“Lengkap, ada kop surat, ada tulisan menimbang, menyebut mahasiswa TF, alamat, asal SMA dan sebagainya, diterima dan bisa berkuliah di Teknik Industri FT UB, tertanggal 11 Juli 2017. Terkait uang yang diserahkan, kalau merasa dirugikan, silakan laporan ke Polres Makota,” tambah Prija.
Prija menambahkan, selain korban penipuan TF yang ingin masuk ke Teknik Industri, rektorat UB juga menampung dua laporan penipuan dua calon maba ke Fakultas Kedokteran UB. “Satu di FT UB dan dua di FK UB. Setahu saya, yang di FK UB, bukan pemalsuan tandatangan tapi murni penipuan, maba diminta bayar Rp 700 juta oleh oknum. Saya arahkan mereka lapor polisi,” kata Prija.
Dia mengatakan, berbeda dengan TF yang diberi surat keputusan rektor aspal, dua calon maba FK UB yang melapor ke rektorat, tidak mendapat jaminan apapun. Menurut Prija, dua calon maba tersebut, hanya jadi bahan percobaan dari oknum yang memberi janji kelulusan ujian masuk ke FK UB.
“Jadi, korban hanya mendapat janji saja dari pelaku. Oknum ini hanya coba-coba saja, kalau korban lulus, oknum untung. Tapi buktinya, dua calon maba yang mengaku sudah bayar Rp 700 juta itu, tidak lolos. Kami ingin buktikan bahwa seleksi masuk UB, bersih dari hal seperti ini,” tutup Prija.
Sementara itu, Kapolres Makota AKBP Hoiruddin Hasibuan langsung menanggapi laporan dari pihak UB terkait pemalsuan surat dan tandatangan Prof Bisri tersebut. “Saya yakin, ada yang catut nama pak Rektor, lalu mencari keuntungan. Namanya orangtua, ingin anaknya masuk ke UB, ada oknum janji bisa masukkan, ya dia ikut-ikut sajalah. Kasihan,” kata Hoiruddin kepada wartawan di Polres Makota, sore kemarin.
Kapolres menyebut, saat ini anggotanya sedang mendalami laporan dari UB, terkait dugaan pelanggaran pasal 263 ayat 1 KUHP tentang pemalsuan surat. Dia juga sudah menginstruksikan anggotanya untuk mengirim barang bukti ke laboratorium forensik demi mengecek keabsahan atau keaslian tanda tangan rektor UB.
“Kita akan bawa barang bukti ke laboratorium forensik, untuk cek keaslian. Kita pasti tangani dengan profesional, saya terus pantau dan cek perkembangannya,” tutup Hoiruddin.(fin/sin/han)

Berita Lainnya :