Pelaku Diduga Pensiunan dan Karyawan UB



MALANG - Pascaseleksi jalur mandiri Universitas Brawijaya (UB) tahun ajaran 2017/2018, ditemukan tiga kasus penipuan yang berkedok, mahasiswa bisa diterima dengan persyaratan membayar uang kepada oknum. Tiga kasus tersebut, adalah kasus calon mahasiswa FK yang harus membayar Rp 300 juta, kasus mahasiswa kenotariatan yang harus membayar Rp 770 juta. Dan kasus pemalsuan surat rekomendasi kelulusan dengan tanda tangan rektor.
Ketua Tim Advokat UB, Dr Prija Djatmika SH, MS mengungkapkan, beberapa oknum yang melakukan tindak penipuan, berasal dari internal lembaga. Diduga, anggota lembaga pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) yang masih aktif, melakukan penipuan kepada korban inisial “S” yang dijanjikan masuk Fakultas Kedokteran dengan membayar uang Rp 300 juta.
Prija menerangkan, dalam kasus ini, korban sepakat untuk tidak melaporkan ke pihak berwajib, sebab pelaku berjanji akan mengembalikan uang. Namun sampai saat ini, masih dikembalikan Rp 25 juta.
Kasus kedua, pelaku adalah mahasiswa Pascasarjana Kenotariatan UB, yang melakukan penipuan kepada calon mahasiswa sarjana Fakultas Hukum kenotariatan, dengan dalih membayar Rp 770 juta untuk bisa masuk ke jurusan kenotariatan UB. Untuk kasus ini, Prija mengatakan, saat ini, sudah dalam tahap penyidikan.
Prija menjelaskan, awalnya oknum mahasiswa Pascasarjana ini mengaku sebagai dosen berinisial F. Namun, setelah dikonfirmasi ke fakultas, nama tersebut tidak ada. Baik sebagai dosen ataupun karyawan.
Salah satu oknum yang telah terdeteksi oleh tim advokat UB adalah anggota LP3M tersebut, yang terbukti telah menipu korban berinisial S, untuk bisa lolos masuk FK dengan nilai Rp 300 juta.
Dalam kasus ini, korban S sepakat untuk tidak membawa ke pihak kepolisian, sebab uang telah dikembalikan Rp 25 juta. Namun, ia akan membawa kasus ke polisi, jika uang tidak dikembalikan seutuhnya.
Kasus berikutnya, adalah kasus calon mahasiswa Teknik Industri yang mendapatkan surat rekomendasi kelulusan dari rektor untuk masuk ke jurusan Teknik Industri. Korban inisial TF. Untuk kasus ini, Prija mengatakan belum ada nominal uang yang terbukti. “Kalau untuk kasus ini memang masih belum ada nominal uang. Yang dipermasalahkan adalah tanda tangan rector yang dipalsu,” pungkasnya.
Di sisi lain, Polres Makota sudah mengantongi laporan kepolisian yang dibuat oleh rektorat UB atas dugaan pemalsuan surat dan tanda tangan rektor oleh oknum karyawan UB. Kasatreskrim Polres Makota, AKP Heru Dwi Purnomo menyebut, pihaknya masih melakukan proses penyelidikan awal.

Berita Lainnya :

loading...