Wakil Ketua KPK: Potongan 10 Persen Hal Normal



BATU - Wali Kota Batu Eddy Rumpoko sudah diberi rompi orange oleh KPK RI di Jakarta, Minggu (17/9). Tak seperti pejabat berompi orange lainnya, ER sapaan akrabnya, malah melayani permintaan wawancara para wartawan, ketika keluar dari gedung KPK RI. ER menegaskan bahwa ia tak tahu ini OTT terkait apa, sebab duit pun juga belum ia terima. Ia mempersilahkan CCTV di rumah dinas diperiksa.
Selain ER, ada Edi Setiawan selaku Kepala ULP dan Filipus C selaku kontraktor juga telah mengenakan rompi orange. Eddy Rumpoko terlihat tegar menjalani proses hukum yang sekarang sedang berjalan. Hasil wawancara tersebut kini juga beredar di youtube secara lengkap mulai awal hingga akhir.
Bagaimana ER, sapaan akrab Eddy Rumpoko keluar dari ruang pemeriksaan hingga dicegat sejumlah wartawan di depan gedung terlihat jelas di akun youtube milik kumparan tersebut. Dia juga tetap seperti biasanya, mengumbar senyum dan sangat santai menjawab berbagai pertanyaan wartawan seperti di Balai Kota Among Tani atau lokasi di luar gedung KPK.
‘’Saya tetap yakin dan berharap bisa menjalani proses ini secara baik,’’ ujar ER dalam petikan wawancara itu.
Dalam wawancara tersebut, ER tetap mengaku tidak menerima uang dari siapapun. Uang itu ada dimana dan kemudian diberikan oleh siapa, ER menjawab tidak tahu. ‘’Saya tidak terima, saya tidak tahu,’’ tegas mantan Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang ini.
Apakah dia merasa dijebak dalam OTT tersebut ? ER tidak pernah mengatakan pihaknya dijebak dalam OTT itu. Hanya saja, dia tetap mempertanyakan apa yang dimaksud OTT tersebut. Waktu itu dia ada di kamar mandi dan petugas dari KPK menggedor dan menyebutkan ada OTT. ‘’Hanya hanya mempertanyatakan, apakah seperti itu OTT,’’ tegasnya.
Dia juga menyebutkan, di rumah dinasnya ada CCTV dan itu juga terekam dalam ponselnya. Rekaman CCTV tersebut juga bisa dicek untuk untuk memastikan kronologis hingga mengetahui siapa yang menyerahkan uang hingga terima uang. Apakah ER juga akan mengakukan praperadilan ? Mendapat pertanyaan tersebut, bapak tiga anak ini mengaku belum berpikir ke arah sana.
Sewaktu menjalani pemeriksaan di KPK, dia juga mendapat pertanyaan seputar Filipus. Dia mengaku kenal dengan Filipus. Bahkan tidak hanya Filipus, bahkan dengan keluarganya. ER mengetahui Filipus sebagai pengusaha hotel. Soal mebeler, dia mengakui jika pengadaan itu ada di tahun 2017 ini karena gedung perkantoran di Kota Batu adalah bangunan baru.
Mengenai uang yang disebutkan untuk melunasi mobil Toyota Alphard, dia mengakui tidak ada kaitannya dengan proyek. Masalahnya, mobil tersebut adalah urusan perusahaan.   
Sementara itu, sehari sebelum kena OTT KPK, ER sempat mengeluarkan komentar. Pernyataannya ini seperti menjadi sinyal bahwa Kota Batu bakal mengalami masa tanpa wali kota.
“Semua kebijakan harus tetap jalan, masak tidak ada sekda harus berhenti. Tidak ada wali kota saja, roda pemerintahan harus tetap berjalan,” tegas Eddy Rumpoko, Wali Kota Batu kepada sejumlah wartawan saat diwawancarai di depan kantor KPU Kota Batu sesaat setelah meresmikan rumah pintar.
Tidak ada yang menyangka, kalau kalimat yang diucapkan wali kota, sehari sebelum ditangkap oleh KPK ini menjadi salah satu firasat bahwa untuk sementara waktu warga Kota Batu tidak lagi memiliki wali kota.
Pasca penangkapan ER, panggilan akrab Eddy Rumpoko oleh KPK, Sabtu (16/9) siang, seluruh pejabat di lingkungan Pemkot Batu dan DPRD Kota Batu tak muncul. Tidak ada yang terlihat di depan publik, bahkan ada salah satu anggota dewan yang sampai keluar dari grup WA.
Begitu juga dengan Punjul Santoso, setelah memanggil tiga asisten di ruangannya, Sabtu (16/9) malam. Punjul tidak terlihat lagi di kantor, dikabarkan ia sempat bertemu dengan beberapa orang pejabat Pemkot Batu di sebuah rumah makan malam itu.

Berita Lainnya :