KPK Geledah Pabrik Konveksi Filipus


BATU - KPK menggeledah sebuah gedung tanpa plang nama di Jalan Brigjen Katamso 48-50 RT 10 RW 05 Kauman, siang kemarin. Pabrik ini adalah kantor Filipus Djap, terduga penyuap Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, yang kini jadi tersangka komisi anti rasuah. Berbanding terbalik dengan kemegahan Amarta Hills Hotel atau rumah pribadi Filipus di Jalan Dempo, PT Dailbana Prima yang menang lelang mebeler berujung dugaan suap itu, terkesan kumuh.
Alih-alih seperti gedung kantoran, bangunan yang isinya diaduk-aduk KPK mulai pukul 12.30 WIB sampai 16.00 WIB itu, adalah pabrik konveksi. Rombongan KPK, datang dengan jumlah 14 orang penyidik, dalam tiga mobil. Dua mobil polisi, berisi 10 anggota Sabhara Polres Makota. Setelah rombongan penyidik KPK dan anggota Sabhara Polres Makota datang, pihak pengelola pabrik langsung menutup gerbang.
Karena jam istirahat selesai, banyak wanita paruh baya lalu lalang yang masuk ke dalam pabrik. Saat penyidik KPK membongkar ruang berkas di dalam pabrik, produksi konveksi masih terus berjalan dan tidak berhenti. Wartawan tak diberi akses untuk sekadar masuk di halaman parkir dalam pabrik konveksi tersebut.
Petugas keamanan bertato yang memakai kaos oblong, juga hanya diam tanpa ekspresi ketika ditanyai awak media tentang siapa saja yang ada di dalam, serta peruntukan pabrik itu. Keterangan yang dihimpun dari warga sekitar, Nurul, bukan nama sebenarnya, 33 tahun, pabrik konveksi tersebut, memang dikendalikan pria bernama Filip.
“Sudah lima lebaran dipegang oleh orang namanya Filip. Dulu saya pernah kerja di situ. Kalau saya, biasanya kebagian menjahit lengan baju,” jelasnya kepada wartawan siang kemarin. Dia menyebut gedung tersebut melayani berbagai macam pesanan busana, mulai dari kaos sampai kemeja.
Dari keterangan yang didapat, pabrik konveksi ini sering mengerjakan proyek menang lelang dari kampus-kampus negeri di Kota Malang. Hal ini tak dibantah oleh mantan karyawannya tersebut. Dia sering mengerjakan proyek jas almamater dengan para pekerja lain, yang jumlahnya sekitar 100-an orang.
“Sehari biasanya satu pekerja ditarget garap dua bal kain, ada UB yang paling banyak,” tambahnya. PT Dailbana Prima, perusahaan kontraktor yang dipimpin Filip, pernah menang tender di lelang elektronik Universitas Brawijaya. PT Dailbana Prima menang tender Rp 3,4 miliar, pengadaan jas almamater maba UB tahun 2016/2017 dari LPSE Kemenristek Pendidikan Tinggi.
Tahun akademik sebelumnya, PT Dailbana kembali menang lelang di UB, dengan tawaran tender Rp 2,8 miliar dari total pagu Rp 3,3 miliar. Selain beroperasi di Malang, PT Dailbana Prima juga mengejar proyek pengadaan almamater luar pulau. Misalnya saja, menang tender produksi almamater Universitas Tadulako Palu Sulteng dengan nilai Rp 1,3 miliar.
Atau, ikut tender di UGM Yogyakarta hingga Unej Jember. PT Dailbana Prima sering ikut tender berjenis konveksi di institusi pemerintahan walaupun kalah. Misalnya Kabupaten Jember, Kabupaten Magetan, KONI Kaltim, Kota Medan, bahkan di LPSE Polda Jatim. Lalu, dia juga melempar proposal lelang tender di Kota Surabaya, Kota Blitar, Provinsi DKI Jakarta, Kabupaten Gresik hingga Provinsi Gorontalo.
Salah satu warga dari seberang jalan, menyebut dulunya gedung tersebut bukan pabrik garment. “Sempat jadi tempat futsal, jualan sarang burung walet hingga lapangan bulutangkis. Sekarang jadi pabrik garmen, dan beli gedung serta lahan di sisi baratnya dekat Alfamart itu,” ungkap pria berbadan gempal itu, sembari menunjuk sisi barat pabrik konveksi yang masih terkesan baru selesai dibangun.
Setelah pemeriksaan selama kurang lebih tiga setengah jam, rombongan KPK yang berada di dalam parkir dalam, keluar dari pabrik konveksi itu. Tak lama, pengacara keluarga Filipus, Joko Tri Cahyono, tampak tergesa-gesa masuk ke mobil SUV hitam L 1145 YN. Namun, karena dicegat wartawan, Joko memberi keterangan bahwa dia hanya menemani kliennya menjalani pemeriksaan.
Dia juga hanya melontarkan dua buah kalimat sebelum masuk ke mobil dan menutup pintu. “Hanya pemeriksaan biasa saja. Saya mendampingi,” ujarnya singkat.
Saat ditanyai soal barang atau benda apa saja yang diambil oleh KPK, Joko langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi.(dan/fin/ary)

Berita Lainnya :