Jadi Kurir SS, Susul Suami ke Penjara

 
MALANG – F Nandita L, 20 tahun, tidak menyangka akan menyusul suaminya mendekam dalam jeruji besi. Ibu satu anak warga Dusun Sumberayu, Desa Pamotan, Dampit ini, tersandung hukum karena kasus narkotika. Ia menjadi kurir suaminya yang kini menjadi tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lowokwaru.
Wanita berparas manis ini, ditangkap petugas di sebuah warung makan di Desa Talok, Kecamatan Turen. Saat itu, ia baru saja mengambil paketan sabu-sabu (SS) dan ganja yang diranjau di pot bunga. Sedianya barang haram tersebut akan diserahkan kepada seseorang.
Namun belum sempat menyerahkan, Nandita lebih dulu diamankan petugas. "Barang itu (SS dan ganja, red) milik orang lain. Saya hanya diminta untuk menyerahkan saja," ungkap Nandita.
Diakuinya, dulu dirinya memang pernah memakai sabu-sabu. Hanya sekali, itupun diajak suaminya sebelum ditangkap polisi. Ia mengenal barang psikotropika juga dari suaminya.
Tertangkapnya Nandita, berawal ketika dia menerima telepon dari suaminya. Ia diminta untuk mengambil paketan SS dan ganja di pot bunga Desa Talok, Turen. Semula Nandita tidak mau karena takut berurusan dengan hukum.
Namun karena butuh uang, Nandita pun akhirnya nekat. "Saya butuh uang untuk biaya berobat adik. Selain itu saya juga butuh uang untuk biaya mengurus surat cerai dengan suami. Kata suami, setelah barang saya ambil dan diserahkan kepada seseorang, uang akan ditransfer," terangnya.
Setelah mengambil barang haram itu, Nandita lantas masuk ke dalam warung. Ia menunggu seseorang yang akan mengambil SS dan ganja itu. Namun bukannya orang dimaksud yang datang, sebaliknya justru polisi yang menghampirinya.
Nandita pun tidak bisa mengelak. Ia hanya pasrah karena kedapatan barang bukti di dalam tasnya. Yakni SS seberat 4,48 gram dan ganja kering seberat 5,85 gram. "Baru sekali ini saja. Kalau tidak karena terpaksa, saya tidak mungkin mau," bebernya.
Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Ahmad Taufik mengatakan tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat 1 sub 112 ayat 1 sub 111 ayat 1 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009, tentang narkotika. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun kurungan penjara.
"Kasusnya masih dikembangkan apakah ada kaitan dengan jaringan narkoba di Lapas Lowokwaru, sesuai dengan pengakuan tersangka," jelas Ahmad Taufik.(agp/jon)

Berita Lainnya :

loading...