Bawa Celurit, Terjaring Ops Sikat

 
MALANG – Polres Makota melanjutkan ops Sikat Semeru 2017 untuk membersihkan jalanan dari kejahatan. Selama ops Sikat, petugas polisi menangkap seorang pemuda di bawah umur, berinisial SS, 16 tahun, warga Jalan Muharto gang VII Kota Lama karena kedapatan membawa senjata tajam, diduga dalam kondisi mabuk.
“Kita cukup intensif gelar ops Sikat Semeru, termasuk pelaku di bawah umur yang membawa sajam, diamankan di Polsek Blimbing, sebelum dilimpahkan ke UPPA Polres Makota,” kata Kasubbag Humas Polres Makota, Ipda Marhaeni di mako Polres Makota Jalan JA Suprapto, kemarin.
Pekan lalu, penjaga malam di Jalan Hamid Rusdi, sekitar pukul 22.00 WIB, tengah berjaga di poskamling. Tiba-tiba saja, warga melihat sosok SS yang berlari dalam kondisi sempoyongan. Curiga dengan gerak-gerik pemuda itu, penjaga malam langsung mendekati dan melakukan pengejaran.
Tidak disangka, dia masuk ke dalam sebuah gang di Jalan Hamid Rusdi. Warga pun semakin cepat mengejar SS. Tak lama, dia ditangkap dan diamankan di pos kamling. Setelah digeledah, dia ternyata membawa sebuah senjata tajam berupa celurit yang diselipkan di balik pakaiannya.
Selain itu, saksi mata menyebut SS diduga dalam kondisi mabuk. Karena kondisinya yang mencurigakan dan temuan senjata tajam yang disembunyikan di balik baju, penjaga malam langsung menghubungi Polsek Blimbing. Tak lama, dia diamankan oleh mobil petugas dan dibawa ke Polsek Blimbing untuk dimintai keterangan. Ketahuan, bahwa SS masih di bawah umur.
Polsek Blimbing langsung melimpahkan berkasnya ke Polres Makota, di bawah penanganan UPPA. Heni menyebut, SS diduga melanggar pasal UU Darurat RT nomor 12 tahun 1951, tentang tanpa hak, menguasai dan membawa senjata tajam. Pemuda yang sudah tak sekolah itu, terancam hukuman penjara maksimal 10 tahun.
Meski demikian, Kabapas Kelas 1 Malang, Sudirman Zainuddin menegaskan, semua kasus anak, apabila tidak sampai dikenai pasal berat, masih bisa didiversi. “Diupayakan yang terbaik untuk anak, karena ada UU Perlindungan Anak yang mendorong adanya diversi agar dia tetap punya masa depan, sehingga tak perlu diadili seperti orang dewasa,” tutupnya.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...