Sekolah: DO, EPN Salah Pergaulan



MALANG – EPN (16 tahun) diduga salah pergaulan sehingga menyeretnya terbunuh secara tragis. Keterangan terperinci didapat dari sekolah tempat gadis itu mengenyam pendidikan, Kamis (28/9) kemarin. Pada fase puber, EPN mendapatkan teman yang salah, sehingga membuat arah kehidupannya tidak jelas.
Kepala SMP Maarif 1 Lawang Ainur Rofiq 38 tahun kaget mendengar kematian mantan siswanya, EPN 16 tahun warga Dusun Kalisuko, Sumbersuko Lawang. Ainur menyebut EPN hanya sempat belajar selama satu tahun di sekolah Jalan Thamrin Lawang itu, sebelum menghilang dari proses belajar mengajar dan drop out (DO).
“Kalau remaja putri yang difoto ini saya kenal, dia pernah sekolah di sini. 2015 semester ganjil, dua hari masuk setelah itu hilang. Lama tak terdengar kabar, saya langsung kaget karena dia diberitakan meninggal tragis, ” kata Ainur kepada Malang Post, dikonfirmasi di kantornya kemarin siang.
EPN tidak menghabiskan masa pendidikan di SMP Maarif 1 Lawang. Dia hanya belajar hingga masuk kelas 8. Setelah semester ganjil berjalan dua hari, EPN menghilang dari bangku sekolah. Pasca drop out (DO) dari SMP Maarif 1 Lawang, EPN menjadi pekerja pabrik kok bulutangkis Jalan Pandawa. Saat melintasi jalan itu, Ainur pernah bertemu dengan EPN .
“Saya pernah ketemu dengan korban saat melintasi jalan itu. Dia menjadi pekerja pabrik kok. Setelah pertemuan singkat tersebut, saya tidak pernah lagi melihat korban,” ungkap alumnus Universitas Negeri Malang, dulu IKIP Malang itu.
Menurut pengajar bahasa Arab tarbiyah ini, EPN masih terlihat biasa-biasa saja pada awal masuk SMP Maarif 1 Lawang. Namun, perilakunya sudah menunjukkan tanda-tanda pemberontakan.
Secara administrasi, EPN terdaftar sebagai anggota marching band sekolah. Hanya saja, dia jarang mengikuti latihan. EPN juga sering bolos ekstra wajib Pramuka. Perubahan perilaku EPN semakin ekstrem karena dia mendapat teman baru di luar siswa sekolah.
“Pada semester genap kelas 7 SMP, EPN menunjukkan perubahan perilaku. Dia mendapat teman baru di luar teman sekolah, yaitu anak-anak tak sekolah yang berkeliaran di jalan. Dia menjadi siswa yang gemar bolos. Teman-teman sekolahnya sering mengingatkan tapi tidak dipedulikan,” jelas Ainur.
Pihak sekolah menambahkan perhatian kepada EPN setelah tahu dia gemar absen dari proses belajar mengajar. Guru SMP Maarif 1 Lawang datang ke rumahnya beberapa kali untuk home visit dan memberi nasehat kepada EPN. Pihak keluarga EPN juga sudah menjadi langganan panggilan sekolah.
“Keluarganya memohon agar EPN tidak dikeluarkan karena gemar bolos. Kami memahami situasi keluarganya yang pas-pasan. Guru sekolah melakukan semua upaya agar EPN kembali sekolah. Tapi, dia tidak peduli nasehat guru dan keluarga, serta memilih temannya di luar sana,” sambung pria domisili Dorowati-Lawang ini.
Ainur menyesalkan peristiwa memilukan yang merenggut nyawa mantan siswanya itu. Dia berharap kepolisian bisa menegakkan keadilan untuk EPN. Ainur menyebut EPN adalah korban kesalahan pergaulan.
“Dia salah pergaulan. Dia mendapatkan teman yang salah ketika fase puber. Sehingga proses pencarian jati dirinya tersesat dan salah arah,” tutup Ainur.
Sementara itu, EPN sudah lama tidak pulang ke rumah. Salah satu penyidik Polsek Purwodadi, Bripka Andi menyebut EPN masuk dalam gerombolan anak punk yang gemar mbambong atau menggelandang.
“Dia sudah lama tidak pulang, minggat dari rumah. Dia ikut-ikutan kelompok anak punk,” tegas Andi.
Pihak Polsek Purwodadi Pasuruan, masih mendalami perkara ini. Kapolsek Purwodadi, AKP Slamet Santoso mengatakan penyidik masih menggali keterangan dari tersangka MMH alias Donon 17 tahun warga Dusun Ngawen Parerejo Purwodadi. “Masih pendalaman, penyidikan terus berlangsung,” kata Slamet.

Berita Lainnya :