Diduga Hirup Karbon Monoksida dari Genset Telkomsel, 7 Orang Meninggal


MALANG – Tujuh pria ini tidak bangun dari tidur. Mereka masih di posisi sama ketika ketujuhnya merebahkan badan untuk beristirahat di aula Balai Desa Ngadas pada Kamis malam (28/9/17). Ada yang tidur nyaman di sofa, di atas beberapa kursi yang dibuat berjejer, dalam posisi duduk bersandar, ada juga yang membungkus tubuhnya dengan selimut warna pink. Tujuh pria ini meninggal dalam lelap. Membuat trenyuh siapapun yang melihat.
Maka, keheningan desa di atas awan itu pun terkoyak, kemarin pagi. Warga geger. Ketujuh pria itu diduga meninggal karena menghirup karbon moniksida (CO) yang dikeluarkan dari genset milik Telkomsel. Lima orang adalah pekerja bangunan, sementara dua korban lain merupakan pegawai teknisi vendor Telkomsel. Identitas ketujuh korban tersebut adalah Ahmad Syaifudin alias Diono, 38, Nurokhim, 33, Moch Imam Safii, 19 serta Bambang Irawan, 35. Keempatnya warga RT05 RW02, Desa Wonorejo, Poncokusumo. Lalu Jumadi, 34, warga Jalan Roman, Desa Gedogwetan, Poncokusumo. Kelimanya adalah tukang dan kuli bangunan.
Sedangkan dua teknisi Telkomsel adalah Hasrul Prio Purnomo, 29, warga Desa Mojodadi, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan serta Muhammad Yusuf, 18, warga Jalan Jaksa Agung Suprapto Blok I, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Dari tujuh korban meninggal, semuanya mengenakan jaket karena kondisi Desa Ngadas memang sangat dingin. Saat Malang Post mengecek cuaca di weather.com semalam, suhu di Ngadas sekitar 10 derajat celcius. Diperkirakan, suhu pada Kamis malam pun di kisaran yang sama. Karena itu, melihat posisi Diono yang terlentang di lantai, memunculkan prediksi Malang Post bahwa pria tersebut sempat sadar ketika keracunan gas karbon monoksida. Diperkirakan, ia awalnya tidur di sofa di samping Bambang Irawan (lihat grafis, Red). Nah, di tengah bergelut dengan efek gas karbon monoksida itu, Diono sempat bangun untuk mencari oksigen, namun akhirnya tidak kuat dan terjatuh di samping sofa Bambang Irawan.  
“Semua korban yang meninggal tadi, mulutnya berbusa. Ada juga yang mengeluarkan darah dari hidung. Namun posisi semuanya seperti orang tidur,” ujar Sampetno, salah satu warga sekitar.
Berdasarkan keterangan beberapa warga, lima pekerja bangunan yang menjadi korban tersebut, setiap harinya memang tidur di aula atau pendopo Balai Desa Ngadas. Sejak sekitar tiga pekan lalu, mereka membangun Kantor Balai Desa Ngadas yang ada di sebelahnya atau depan SDN 1 Ngadas. Mereka pulang setiap hari Sabtu, dan biasanya kembali bekerja Senin pagi.
Kamis lalu, mereka hanya bekerja setengah hari sampai pukul 13.00. Oleh mandor bangunan, Kusaeri, warga Dusun Wates, Desa Wonomulyo, mereka sempat diminta pulang karena ada kegiatan karnaval di desanya. Tetapi mereka tidak mau pulang dan memilih tetap menginap di aula. Alasannya, takut berangkat kerja kesiangan.
Akhirnya para pekerja ini nongkrong sembari makan bakso. Sekitar pukul 19.00 setelah mandor pulang kelimanya langsung tidur di kursi dan sofa ruang belakang aula. Pukul 20.00, Kepala Desa Ngadas, Mujianto, menggelar rapat di ruang tengah aula bersama dengan perangkat desa. Mereka membahas tentang pelebaran jalan desa.

Berita Lainnya :