Warga Ngadas Segera Ratakan Aula Maut


PASCA tewasnya tujuh orang di kawasan pemukiman Suku Tengger, tepatnya  dalam Aula Balai Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo, Jumat pagi. Warga berencana membongkar bangunan tersebut hingga rata. Bahkan seluruh perabot dan fasilitas yang ada dalam aula, juga akan ikut diludeskan dengan cara dibakar. Hanya menyisakan dokumen saja yang tidak ikut dimusnahkan.
“Sudah menjadi adat di Desa Ngadas. Setiap tempat yang ada kejadian orang meninggal secara tidak wajar langsung dimusnahkan,” ujar Sampetono, salah satu tokoh masyarakat sekitar.
Sebetulnya, begitu tujuh mayat sudah dikeluarkan dari dalam aula, kemarin siang warga sudah berkeinginan untuk membongkar. Karena membongkar atau membakar bangunan itu, menjadi hak sekaligus adat warga sekitar. Tidak hanya fasilitas umum, jika rumah warga dijadikan tempat gantung diri, pasti juga akan dibongkar.
“Jika ada temuan mayat di gubuk dekat kebun, maka gubuk itu langsung dibakar. Termasuk dengan semua tanaman dikebun juga ikut dimusnahkan. Begitu juga dengan aula nanti, semua meja kursi, TV atau barang lain yang ada di dalam akan dimusnahkan” tuturnya.
Hanya saja, karena kasus tewasnya tujuh orang tersebut masih dalam proses penyelidikan, warga sementara waktu menunda dulu. Apalagi di dalam aula, juga masih terdapat beberapa barang bukti yang belum diamankan. Agar tidak sampai dimasuki orang, aula tersebut dipasang garis polisi memutar.
“Kami sudah meminta pimpinan polisi untuk mempercepat proses penyelidikan. Termasuk jika akan ada olah TKP dari Polda Jatim, kami minta secepatnya karena bangunan aula ini harus segera dirobohkan,” jelasnya.
Meskipun menjadi adat warga Desa Ngadas, namun saat pembongkaran nanti tidak ada ritual atau selamatan khusus. Terlebih dahulu, warga akan mengumpulkan seluruh perabot dalam aula menjadi satu. Selanjutnya akan dibakar hingga ludes. Baru setelah itu, bangunan akan dirobohkan dengan menggunakan alat berat.
“Bongkahan bangunan setelah dirobohkan, nantinya akan dibuang ke hutan, dengan menyewa kendaraan dump truk. Termasuk sisa material seperti besi, meski masih bisa dipakai akan dibuang tidak boleh digunakan lagi,” terangnya.
Setelah dirobohkan, lahan tersebut akan dibiarkan terbuka. Jika nantinya ingin dibangun aula lagi, maka desa dan warga sekitar akan bekerjasama dengan dana swadaya untuk membangun aula lagi. Biasanya seluruh warga sebanyak 450 KK akan diminta sumbangan untuk membangun.
Halnya seperti membangun Kantor Desa Ngadas, yang baru tiga pekan lalu dibangun. Dana untuk membangun kantor desa tersebut, berasal dari warga yang urunan. Setiap KK membayar sebesar Rp 450 ribu. Dan di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo, sudah menjadi adatnya.
“Aula yang menjadi lokasi penemuan mayat itu, dulunya yang membangun juga warga. Dananya dari swadaya masyarakat juga. Tergantung hasil keputusan rapat berapa biaya untuk membangun aula lagi,” urainya.
Dengan tidak adanya aula, serta Kantor Desa Ngadas masih proses pembangunan, maka untuk perangkat dan Kepala Desa Ngadas sementara akan ngantor di rumahnya masing-masing. Akan kembali mengantor setelah nanti kantor desa sudah jadi.
Sebenarnya bangunan aula tersebut, masih sangat bagus. Baru sekitar lima tahun lalu direnovasi. Dulunya juga aula namun kondisinya sangat jelek. Namun begitu sudah bagus, sekarang bangunan berukuran 10 x 15 meter tersebut akan dirobohkan dengan tanah, karena kejadian tewasnya tujuh orang dalam aula.
Sementara itu, pasca kejadian tewasnya tujuh orang tersebut, aula juga langsung dijaga oleh puluhan Linmas. Dengan memakai seragam warna hijau, mereka berjaga di depan aula sampai setelah kedatangan tim olah TKP dari Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur.
“Ada barang-barang seperti mobil pick up milik pekerja Telkomsel dan motor milik korban lainnya yang harus dijaga,” papar Sampetno, kakak ipar Sampetono.(agp/ary)

Berita Lainnya :