Menyesal, Bertengkar Sebelum Suami Meninggal

 
“Ya Allah, Mas Yusuf ya Allah,” pekik Khusnul, 22 tahun berurai tangis. Sesekali dia menyebut asma Allah. Tapi, wanita berjilbab itu lebih sering memanggil nama suaminya Muhammad Yusuf, 21, yang tewas di Balai Desa Ngadas Poncokusumo. Yusuf adalah satu dari tujuh korban meninggal karena dugaan keracunan karbon monoksida.
Ayahnya, Sunari berupaya menenangkan Khusnul. Tapi, ibu satu anak itu hanya bisa terduduk lunglai dengan derai air mata di kedua pipinya ketika mendatangi kamar mayat RSSA Malang siang kemarin, sekitar pukul 13.00 WIB. Dia berpegang pada salah satu kerabatnya sembari menderukan kesedihan dan penyesalannya.
Sunari masih berupaya tegar melihat hati putrinya hancur. Karena, dia tak hanya menyokong mental putrinya. Pria asal Banjararum Singosari tersebut juga harus menguatkan besan sekaligus ayah mertua putrinya, Satrio Sri Widodo. Jika Khusnul banjir air mata, maka Satrio tampak seperti pria linglung.
Dia masih seperti tak percaya anak tunggalnya M. Yusuf sudah tiada. Dengan langkah gontai, dia bolak-balik ke dalam ruang forensik untuk mengidentifikasi mayat anaknya. Saat ditanyai Malang Post, Satrio masih sempat merespon. Satrio menjawab bahwa putranya bekerja sebagai teknisi vendor Telkomsel.
“Kerja menjadi vendor Telkomsel,” ungkap Satrio. Dia juga mengaku bertemu dengan putranya dua hari lalu di rumah. Hanya saja, Satrio seperti tidak kuat menahan sedih dan langsung menitikkan air mata. Dia meminta maaf dan meminta waktu untuk menenangkan diri.
Sunari menyebut,  anak menantunya bekerja di Telkomsel selama satu setengah tahun. “Sekitar satu setengah tahun. Perhitungannya, ini tahun kedua dia bekerja sebagai vendor Telkomsel,” kata Sunari.
Dia menyebut, Yusuf dan Khusnul dikarunai anak perempuan yang masih balita. Sunari mengatakan, kabar pertama meninggalnya Yusuf, diterima langsung oleh Satrio.
Dia menyebut bahwa putrinya dan Yusuf sempat mengalami pertengkaran. Sebagai orangtua dia sudah berupaya mengarahkan agar mereka tidak keras kepala. “Mereka berdua sama-sama keras kepala,” ujarnya. Karena pertengkaran inilah, penyesalan Khusnul tampak begitu mendalam dan pedih.
Saat jenazah M Yusuf diangkut dari KM RSSA Malang ke Banjararum, Khusnul tidak ikut dalam rombongan ambulans relawan. Dia pulang terlebih dahulu untuk menyambut jenazah suaminya di rumah duka.
Sementara itu, kematian Jumadi warga RT 2 RW 2 Dusun Mulyoarjo Gedogwetan Turen di Aula Balai Desa Ngadas, membuat kedua orangtuanya, Astadi dan Jumainah pingsan. Keluarga itu mendapat kabar, putra kedua mereka tewas di Ngadas sekitar pukul 11.00, kemarin. Bahkan mereka masih pingsan, ketika paman korban Supriono dan  Kepala Dusun Winardi berangkat ke Instalasi Kedokteran Forensik RSSA.
“Jumadi ini kuli bangunan, dia selama ini kerja serabutan, baru dua minggu kerja di Ngadas, Minggu pulang, Senin (25/9) pagi berangkat lagi ke sana,” aku Supriono paman korban kepada Malang Post.(fin/ary/han)

Berita Lainnya :

loading...