Lalai, Korban Bisa Jadi Tersangka


MALANG – Polisi memastikan ada unsur kelalaian, dalam tragedi tewasnya tujuh orang di aula Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Jumat (29/9) pagi lalu. Harus ada pihak yang bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Siapakah? Polres Malang saat ini masih mendalaminya.
Kasatreskrim Polres Malang, AKP Azi Pratas Guspitu mengatakan, sudah meminta keterangan lima orang saksi. Selain saksi warga, juga perangkat desa, pemborong (mandor bangunan, red) serta Kepala Desa Ngadas, Mujianto.
“Semalam (Jumat malam, red) kelima saksi langsung kami mintai keterangan. Mulai pukul 20.30 sampai 01.00. Pemeriksaan kami lakukan di Polres Malang,” terang Azi Pratas Guspitu.
Berdasarkan keterangan kelima saksi, semuanya menyatakan sudah mengingatkan ketujuh korban. Baik pekerja bangunan ataupun teknisi vendor Telkomsel untuk tidak menutup pintu ataupun jendela, ketika sedang tidur. Namun faktanya, tertutup rapat saat menghidupkan genset.
Dari situlah, polisi menduga ada unsur kelalaiannya. Terutama dilakukan oleh dua petugas teknisi vendor Telkomsel. Karena berdasarkan keterangan saksi, yang menghidupkan genset dalam aula adalah mereka.
“Seharusnya seorang teknisi, pasti tahu kalau genset mengeluarkan asap. Tetapi kenapa genset justru dihidupkan dalam ruangan dengan kondisi pintu dan jendela tertutup,” ujarnya.
Kelalaian yang mereka lakukan itulah, lanjut Azi, yang menyebabkan lima pekerja bangunan tewas, termasuk dua petugas teknisi vendor Telkomsel yang ikut menjadi korban. Unsur kelalaiannya sesuai dengan pasal 359 KUHP, telah memenuhi syarat. “Sehingga bisa jadi mereka (petugas teknisi vendor Telkomsel, red) menjadi korban sekaligus tersangka. Tetapi kami masih mendalaminya lagi,” tuturnya.
Apakah pihak Telkomsel juga harus bertanggungjawab?. Perwira dengan pangkat balok tiga ini mengatakan, masih melihat hasil perkembangan penyelidikan terlebih dahulu. Karena baru Selasa (3/10) nanti pihak Telkomsel dimintai keterangan. Selain menanyakan teknis perbaikan jaringan sinyal, juga alasan menaruh genset di aula Desa Ngadas.
“Bisa jadi (Telkomsel) ikut bertanggungjawab, bisa juga tidak. Karena hasil penyelidikan nanti, masih harus kami gelar perkara untuk menentukan langkah selanjutnya,” tegasnya.
Kemarin, dikatakannya, Polres Malang juga telah mengirim sampel darah milik ketujuh korban ke Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur. Untuk memastikan penyebab pastinya kematian mereka. Apakah karena racun karbon monoksida dari mesin genset, ataukah zat kimia lain.
Sekadar diketahui, Jumat (29/9) lalu, tujuh orang ditemukan tanpa nyawa di aula Desa Ngadas, Poncokusumo. Lima di antaranya adalah pekerja bangunan, sementara dua korban lagi adalah petugas teknisi vendor Telkomsel. Dugaannya, mereka meregang nyawa karena menghirup karbon monoksida dari genset.
Ketujuh korban adalah Ahmad Syaifudin alias Diono, 38, Nurokhim, 33, Moch Imam Safii, 19 serta Bambang Irawan, 35, warga Desa Wonorejo, Poncokusumo. Kemudian Jumadi, 34, warga Desa Gedok Wetan, Turen, Hasrul Prio Purnomo, 29, warga Kabupaten Lamongan dan Muhammad Yusuf, 18, warga Jalan Jaksa Agung Suprapto, Malang.
Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, menguatkan kalau polisi sudah mengambil sampel darah para korban, untuk dikirim ke Labfor Polda Jatim. Sekalipun dari hasil pemeriksaan sementara, penyebab kematian ketujuh korban karena karbon monoksida.
“Dalam kondisi normal, tubuh manusia tidak boleh ada kandungan karbon monoksida. Namun berdasarkan pemeriksaan dokter forensik, darah ketujuh korban saat dicek memang mengandung zat tersebut,” jelas Ujung.
“Tetapi untuk memastikan kebenarannya, kami telah mengirim sampel darah ke Labfor Polda Jatim. Paling cepat dua hari ke depan hasilnya bisa diketahui,” sambungnya.(agp/han)

Berita Lainnya :