Polisi Gerebek Gay Mandi Bersama

BATU - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Batu menggerebek aksi telanjang bersama kaum gay di pemandian air panas di Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Sabtu (29/7) dini hari. Dalam pertemuan tersebut, petugas mengamankan sembilan orang gay dan dua orang penjaga kolam pemandian air panas. Sembilan gay tersebut memang telanjang karena mandi dan berendam bersama, tiga orang, di antaranya tergabung dalam grup facebook tertutup, Ikatan Gay Batu (IGABA).
Seluruh peserta mandi bersama ini, antara lain BD, 37, beralamat di Bumiaji Kota Batu, RI, 26, beralamat di Kota Malang, IS, 38, beralamat di Pakisaji, Kab. Malang, PS, 27, Kedungkandang Kota Malang, PS, 27, beralamat di Kedungkandang, Kota Malang, RA, 16, beralamat di Kec. Batu Kota Batu, YU, 18, beralamat di Kec. Batu Kota Batu, TO, 42,beralamat di Kec. Bumiaji Kota Batu. WI,37 , Surabaya dan SU, 51, beralamat di Malang.
Ke-9 gay ini sempat diamankan beberapa jam dengan dugaan telah melanggar Pasal 30 jo Pasal 4 ayat (2) dan/atau Pasal 36 jo Pasal 10 UU RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi dan/atau Pasal 292 KUHP.
Dari tangan para pelaku, petugas mengamankan 10 handphone yang berisikan foto-foto gambar lelaki telanjang, porno, pesan dalam SMS maupun WA. Namun ada juga handphone yang tidak ditemukan konten yang berkaitan dengan aktifitas gay.
Dalam pesan di handphone ada beberapa percakapan yang isinya berjanji kencan di pemandian air panas Songgoriti, ada juga pesan yang isinya cemburu dengan sikap pasangannya yang terlalu akrab dengan laki-laki lain yang ditemui di pemandian air panas itu, hingga akhirnya ia marah dan memilih pulang dengan menggunakan taksi.
Saat digerebek oleh Satuan Reskrim Polres Batu, mereka dalam posisi sedang telanjang bulat dan berendam di air panas di bak-bak yang disediakan oleh pengelola pemandian air panas.
Beberapa gay hanya tertegun melihat banyak petugas merangsek masuk ke kawasan pemandian, namun ada yang langsung mengelak kalau mereka gay. Namun mereka akhirnya mengakui kalau mereka adalah gay, saat diperiksa ponsel-nya, petugas menemukan pesan di SMS, WA atau pun foto.
Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto, membenarkan ada penggerebekan sebuah pemandian air panas yang dikelola perorangan karena diduga terjadi transaksi para kaum LGBT yang tergabung dalam IGABA. 
"Kita mendapatkan informasi dari masyarakat yang jadi viral pada 25 Juli tahun 2017, Kita pun mengadakan penyelidikan, informasi yang masuk ke kita, temu darat ini dilakukan setiap malam minggu, kita pun melakukan pengumpulan bahan keterangan," ujar Buher, panggilan akrab Budi Hermanto.
Berdasar bukti percakapan yang diambil dari akun facebook, grup tertutup IGABA, polisi pun melakukan penyelidikan. Diketahui ternyata temu darat ini tidak dilakukan pada malam minggu saja, namun setiap hari seringkali terjadi temu darat. Hingga akhirnya polisi pun melakukan penggerebekan dan mengamankan 11 orang yang 9 di antaranya dianggap gay.
Para gay ini bukan hanya warga Batu, namun lintas kota, mulai dari Surabaya dan Bali. Ada yang masih duduk di bangku SMA ada yang sudah memiliki istri dan anak. 
"Mereka mengakui kalau kaum gay, namun saat penggerebekan kita tidak menemukan unsur prostitusi atau asusila di tempat umum. Saat kita amankan mereka berada di daerah privasi, bukan tempat terbuka dan tidak ada hubungan sejenis, mereka hanya berendam sambil bercengkrama," ujar Buher. 
Karena itulah, polisi tidak melakukan proses penegakan hukum, tidak ditemukan unsur pidana. Polisi hanya meminta para gay ini menandatangani perjanjian tidak melakukan perbuatan asusila di Kota Batu. 
"Kalau surat pernyataan yang telah mereka tandatangani ada pembiaran, kita akan lakukan tindakan tegas. Apa yang kita lakukan ini untuk menciptakan rasa aman dan efek jera sekaligus agar kondisi kota Batu kondusif. Kita akan tindak tegas pornografi," tegasnya. 
Ditanya mengenai keberadaan Facebook IGABA, Kapolres mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kominfo untuk mengkaji keberadaan facebook ini. Ia mempersilahkan kepada masyarakat untuk melaporkan keberadaan akun ini bila membuat resah masyarakat.
"Sebelum ada laporan masyarakat yang dirugikan, kita tidak bisa memprosesnya karena grup itu adalah grup tertutup, hanya untuk kalangan mereka sendiri," ujar Buher. 
Kapolres mengatakan bahwa aktifitas kaum gay ini ada di Kota Batu sejak dua bulanan ini.
Sementara itu Purnadi, salah seorang penjaga kolam pemandian air panas mengatakan bahwa sulit bagi penjaga untuk mengetahui apakah mereka adalah kaum gay atau bukan.
Karena aktifitas mereka tidak berbeda dengan kaum laki-laki lainnya. Didalam kolam pun mereka tidak ada hal yang ganjil. Mereka berendam seperti biasa dan ngobrol satu dengan lainnya. Kedatangan mereka malam hari pun adalah hal yang lazim, karena banyak orang berendam di kawasan ini memilih waktu malam hari.
"Mereka pun datang tidak berkelompok, tapi sendiri-sendiri. Mana kita tahu kalau mereka gay, selain itu di dalam kolam pun mereka tidak melakukan apa-apa, hanya ngobrol, kita tahu karena setiap 30 menit, kita pasti turun memeriksa kondisi kolam," ujarnya. 
Sementara itu dari pantauan Malang Post, aktivitas di FB IGABA ini sejak tahun 2015. Mereka membicarakan pemandian untuk kaum Gay di kawasan Songgoriti ini. Pada 17 Juli didalam akun mereka pun membicarakan tentang kolam pemandian ini.
"Q baru tahu kalau ada pemandian khusus gay di Songgoriti," ujar salah seorang pemilik akun berinisial BO. Lontaran ini langsung dijawab "Mosok iyo se ?," ujar RI, pemilik akun lainnya. 
Mereka pun sahut menyahut membalas perbincangan ini, mereka juga mengatakan bahwa tempat ini aman dari penggerebekan Satpol PP. Pemilik akun yang lain pun menjawab, "Kpn ksana," ujarnya.  
Secara rutin mereka memang mengadakan temu darat, namun tidak ada aktifitas seks dalam pertemuan itu. "Kalau cocok, baru mereka akan memilih tempat lain yang lebih privasi," jelas sumber Malang Post.
Ada beberapa kode yang mereka terapkan untuk memilih pasangan, kode F yang berarti First artinya gay ini bisa menjadi cowok atau pun cewek, atau kode FB untuk First Bottom, di mana gay ini bertindak sebagai cewek. Dan ada juga istilah First Stop untuk beberapa perlakuan seks. 
Nurbani Yusuf, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa perilaku gay ini sudah ada sejak Nabi Luth AS. Perilaku menyimpang ini menurut Nurbani adalah hal yang natural dan tidak bisa dihilangkan kecuali diminimalisir. 
"Media sosial menjadi alat paling mudah untuk membentuk komunitas sekaligus komunikasi masing pelaku, termasuk website. Seperti gunung es kecil di permukaan tapi besar di dalam," ujar Nurbani.
Hal ini menjadi tugas dari orang tua membentuk karakter anak sejak usia dini agar tidak terjebak pada perilaku sex menyimpang, baik secara fisik atau psikis. "Kita akan lakukan gerakan untuk mengantisipasi hal ini tapi tidak secara vulgar, tapi lebih ke esensial pada halaqah pengajian dan pelajarn di sekolah tentang bahaya LGBT," ujar Nurbani. 
Ia mengingatkan kepada orangtua untuk lebih memahami karakter anak. Termasuk tidak mengenakan baju atau mainan pada anak anak yang tidak sesuai jenis kelamin atau tidak tidur dalam satu selimut, meski kakak dan adik satu jenis. 
Dalam kesempatan itu, Nurbani juga mendorong pada pihak aparat untuk lebih tegas menyikapi website dan sejenisnya untuk pencegahan dan penindakan. Ia juga meminta kepada pemilik vila atau tempat wisata harus jeli melihat perilaku para gay di Kota Batu. (dan/ary)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :