Bikin Upal Ratusan Juta di Dampit

 
MALANG - Gara-gara membikin uang palsu (upal) ratusan juta rupiah, Candra Wahyu Kiswantoro, 40, warga Dusun Taman Gilang, Desa Taman Kuncaran, Kecamatan Tirto Yudo, Malang dibekuk polisi. Subdit III kejahatan dan kekerasan (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim berhasil menangkap tersangka bermula dari laporan masyarakat tentang adanya produksi upal di Jalan Raya Segaluh Dampit, Malang. Kemudian polisi melakukan pengintaian kepada aktivitas tersangka. Selanjutnya menggerebek tersangka di lokasi pembuatan upal tersebut, Sabtu (30/9). 
"Tersangka ditangkap lantaran telah terbukti membuat uang palsu di rumahnya Dampit Malang. Dari temuan itu polisi menyita Rp 107 juta uang palsu yang sudah dicetak,"kata Wadirreskrimum Polda Jatim, AKBP Teguh Yuswardhi didampingi Kasubdit III Jatanras AKBP Boby Tambunan, Rabu (4/10). 
Teguh menambahkan, tersangka ini beraksi sendirian dalam memproduksi ratusan juta upal itu. Menurutnya ketrampilan pembuatan uang itu didapat dari seorang rekannya. Bahkan, upal tersebut sudah dipesan oleh seseorang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). 
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Boby Paludin Tambunan mengatakan, pemesan upal itu bernama Samuel dari NTT. 
"Menurut pengakuan tersangka, upal ini sudah dipesan oleh Samuel. Rencananya akan dijual di NTT," ujar Boby saat rilis di Mapolda Jatim. 
Perwira menengah dengan dua melati di pundaknya itu menuturkan, tersangka mengaku belum sempat mengedarkan upalitu di Kota Malang dan Jawa Timur. 
Dari rumah tersangka yang sekaligus untuk memproduksi upal, polisi menyita barang bukti berupa printer, kertas HVS ukuran 4 R, gunting, upal Rp 100 ribu sebanyak 214 lembar dan uang palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 1.722 lembar.
Terpisah Dirreskrimum Polda Jawa Timur Kombes Pol Agung Yudha menegaskan, pihaknya akan lebih intens lagi memberantas peredaran upal. Lebih-lebih dalam menatap even pilkada tahun depan.
"Kami instruksikan kepada anggota untuk terus mengembangkan kasus ini. Karena biasanya mendekati even pilkada banyak upalyang akan beredar. Biasanya digunakan oknum-oknum tertentu," ujar Agung. 
Akibat perbuatannya, tersangka bakal dijerat pasal 244 KUHP atau pasal 36 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.(rus/no/jpg/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :