Dengar Teriakan Perempuan, Lalu Boom! Terjadi Ledakan



MALANG - “Tolong pak, tolong. Ada yang di dalam, tolong,” seru Sugeng salah seorang pemilik warung mie ayam menirukan teriakan minta tolong pekerja Home Industry Jalan Raya Candi RT 05 RW 05 Kelurahan Karangbesuki yang terbakar dan menewaskan 5 pekerjanya, Rabu (4/10).
Sugeng melihat sendiri ekspresi wajah ketakutan sekaligus raut tangis yang terpancar dari Yudi dan Taufik, dua pekerja yang berhasil selamat dari kepungan api sekitar pukul 14.00 WIB.
“Ada dua pekerja keluar minta tolong, yang satu bawa dua gas elpiji di tangannya. Yang satu menangis nggak karuan dan teriak minta tolong,” ungkap Sugeng pada Malang Post usai kejadian.
Sugeng menceritakan, setelah melihat pekerja tersebut berlarian keluar dan minta tolong, dirinya baru menyadari adanya kepulan asap hitam besar keluar dari rumah home industry tersebut. Sontak ia panik dan juga turut pergi meninggalkan bedak warung mie ayamnya.
Sugeng yang memiliki bedak mie ayam tepat di depan rumah home industry ini langsung mencabut gas elpiji yang ia punya. Ia berlari ke tempat yang aman menggondol anak dan istrinya.
“Saya lihat dua pekerja itu panik dan nangis-nangis. Saya juga tidak bisa berbuat banyak, saya pergi untuk memberi tahu yang orang sekitar lainnya. Saat itu jalan juga sepi,” papar Sugeng.
Hal yang sama juga diceritakan seorang pengatur lalin di kawasan tersebut, Suwoto. Ia menjelaskan melihat dua pekerja berlarian keluar dan meminta tolong. Segera setelah melihatnya, Suwoto langsung memberi tahu lebih banyak warga.
Namun sebelumnya, Suwoto sempat mendengarkan dua kali ledakan dari dalam rumah tersebut. Yang miris, diceritakannya adalah ia mendengar suara keras perempuan berteriak dari dalam.
“Ada suara perempuan-perempuan, saut-sautan teriak, itu aja. Lalu terjadi ledakan, boom!!. Setelah itu suara teriakan perempuan tadi udah tidak terdengar lagi,” tutur Suwoto dengan ekspresi sedikit ketakutan.
Ia kemudian menceritakan, setelah mengetahui adanya kebakaran tersebut, ia dan warga sekitar turut bahu membahu memadamkan api. Akan tetapi, usaha mereka tak dapat maksimal, sebab tidak ditemukan hydrant ataupun sumber air besar di sekitar.
Kemudian muncul bantuan dari pabrik plastik yang lokasinya berada tidak jauh dari home industry, dengan beberapa dirigen air yang dipunyai. Menggunakan itu, warga berusaha memadamkan api akan tetapi hasilnya tetap tidak signifikan. Api tetap berkobar besar dan semakin besar.
“Setengah jam setelah itu barulah ada pemadam kebakaran (damkar) datang,” ungkap Suwoto.
Ia dan warga yang berada di sekitar hanya dapat berdiam sementara petugas memenuhi lokasi untuk memadamkan api. Suwoto hanya melihat beberapa kantong jenazah yang keluar dan menyadari bahwa suara perempuan yang ia dengar merupakan erangan dari pekerja-pekerja yang tewas dalam kejadian tersebut.
Suwoto menambahkan, dia maupun warga sekitar tidak terlalu mengenal pemiliki home industry yang terbakar tersebut.
“Saya tahu yang punya namanya Pak Samuel. Sudah kurang lebih 15 tahun di sana. Tapi kita susah kalau minta bantuan ke dia,” tutur Suwoto yang merupakan warga Jalan Raya Candi V ini.
Suwoto menceritakan, dia pernah meminta bantuan Samuel untuk membersihkan gorong-gorong depan rumahnya agar tidak mampet dan mengakibatkan banjir. Akan tetapi Samuel tidak mengindahkan.
Begitu pula dengan partisipasi dan keikutsertaan Samuel dalam beberapa kegiatan warga sekitar. Suwoto menambahkan, Samuel adalah sosok tertutup dan tidak banyak dikenal warga sekitar meski sudah lama berkediaman di sana.
“Susah orangnya,” pungkas Suwoto. (ica/han)

Berita Lainnya :

loading...