Samuel Juga Tak Miliki Izin Usaha



MALANG – Muncul fakta baru usai ledakan berujung kebakaran hebat di pabrik rumahan Karangbesuki Sukun, menyebabkan lima pekerja tewas. Pabrik milik Samuel Trisnawan (68 tahun) dipastikan tidak memiliki izin apapun. Malang Post telah menggali fakta ke Pemkot dan Pemkab Malang, kedua pemerintahan tidak pernah memberikan izin usaha kepada Samuel.
Lokasi pabrik tersebut memang unik, halamannya di Jalan Candi V No. 247 RT 05 RW 05 Karangbesuki Sukun, tentu ikut Kota Malang. Namun gedungnya ternyata sudah masuk wilayah administrasi Kabupaten Malang. Hal ini ditegaskan Camat Dau, Supandji Sag MSi, kepada Malang Post, kemarin.
“Secara geografis sebenarnya wilayah tersebut memang berada di Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau. Tapi, mayoritas masyarakat di situ mengurus perizinan dan kependudukan, ikut perkotaan,” ujar Supandji.
Dia mengatakan, masyarakat perbatasan di tempat itu, lebih mudah ketika mengurus perizinan di daerah perkotaan. Lantaran letaknya sangat strategis dan tidak perlu jauh-jauh ke Kepanjen untuk mengurus perizinan serta kependudukan.
“Termasuk perizinan usaha, biasanya ikut Kota. Kalau home industri di tempat tersebut, setahu saya belum mengantongi izin. Tidak tahu lagi kalau mengurus perizinan di Karangbesuki, Kecamatan Sukun,” urainya.
Menurutnya, hal ini memang menjadi masalah di Kecamatan Dau, lantaran letaknya berbatasan langsung dengan Kota Malang. Biasanya, masyarakat memang lebih memilih untuk mengurus perizinan di daerah perkotaan.
Sedangkan pihak kecamatan, tidak bisa berbuat apa-apa terkait hal tersebut dan tidak bertanggungjawab bila terjadi masalah.
“Bisa dilihat, alamat yang terpasang di depan rumah, memakai logo Kota Malang. Padahal, secara geografis ikut Kabupaten Malang,” tuturnya.
Setali tiga uang dengan Pemkab Malang, Pemerintah Kota Malang mengaku tidak pernah mengetahui keberadaan usaha kripik tempe dan pembuatan lem milik Samuel Trisnawan 68 tahun yang meledak Rabu (4/10).
Kepala Dinas Perindustrian Kota Malang, Subkhan yang memantau pertumbuhan home industry di Kota Malang, menyebut bahwa administrasi lokasi pabrik, sejatinya masuk Kecamatan Dau.
“Lokasi itu masuk wilayah Kecamatan Dau Kabupaten Malang, memang berdekatan dan orang tahunya daerah itu Karangbesuki Sukun,” kata Subkhan kepada Malang Post dikonfirmasi pagi kemarin.
Pihak Rukun Tetangga di Jalan Candi V 247 RT 05 RW 05 Dukuh Badut Karangbesuki, tidak tahu menahu soal kegiatan di dalam gedung dengan tembok setinggi 3 meter ini. Ketua RT 05 RW 05 Dukuh Badut, Ponidi 51 tahun mengatakan dia tidak pernah menerima pemberitahuan soal pembuatan izin pendirian usaha kripik tempe maupun lem.
“Soal perizinan saya tidak pernah tahu, ya mungkin sama ketua RT sebelumnya bisa saja,” kata Ponidi kepada wartawan.
Dia juga tidak tahu menahu soal adanya kegiatan produksi kripik tempe maupun lem di gedung tersebut. Karena, dia tidak pernah mendapat pemberitahuan soal kegiatan usaha milik Samuel Trisnawan 68 tahun. Dia juga tak tahu bagaimana rutinitas para pegawai produksi home industry tersebut.
“Saya tidak paham rutinitasnya, karena tidak mengikuti bagaimana sebenarnya proses perizinan,” kata Ponidi.
Menurut Ketua RT 05 membenarkan bahwa lokasi gedung tersebut secara geografis terletak di area Desa Karangwidoro Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Namun karena letaknya terlalu jauh, akhirnya administrasi gedung bergabung di RT 05 RW 05 Karangbesuki.
Sementara itu, Samuel menolak menjawab semua pertanyaan wartawan yang datang ke TKP kemarin siang. Dia menolak memberi konfirmasi dan hanya menjawab dengan dua kata.
Pertanyaan terkait legalitas perusahaannya, maupun kelengkapan keselamatan kerja untuk menghindari kecelakaan kerja, juga tak dijawab dengan baik oleh Samuel.
“Tidak tahu,” ungkapnya singkat, sembari menutup pintu gedung, usai tim Labfor Polda Jatim, meninggalkan TKP, siang kemarin.
Terkait keterangan para korban selamat, Taufik Nur Hidayat 27 tahun warga Jalan Raya Candi II nomor 33 RT 01 RW 02 Karangbesuki, tidak banyak bicara. Dia hanya berujar bahwa kedatangannya ke TKP kemarin, adalah untuk memberi keterangan sebagai saksi kejadian kebakaran dan ledakan.
Dia masuk ke gedung yang dibatasi garis polisi. Saat keluar, dia hanya mengaku ingin berobat karena kaki kanannya melepuh dan membuatnya sulit berjalan.
“Saya hanya ingin berobat,” tuturnya. Sementara, Yudi, 35 tahun warga Karangtengah Karang Widoro Dau, menyebut bahwa korban meninggal 1 laki-laki Suwarnoto 41 tahun, warga Jalan Raya Candi VI RT 09 RW 06, tidak pernah keluar dari gedung.
“Kan ada yang bilang dia sempat keluar. Tidak demikian, dia tetap di dalam bersama ibu-ibu karena terjebak api,” kata Yudi.(big/fin/ary)

Berita Lainnya :

loading...