Lalai, Pabrik Maut Abaikan K3



MALANG – Ada fakta baru dari ledakan pabrik rumahan milik Samuel Trisnawan yang menewaskan lima pekerjanya. Polisi menemukan indikasi unsur kelalaian dari pengelola pabrik di Jalan Candi V No. 247 RT 05 RW 05 Karangbesuki Sukun, Kamis (5/10) kemarin. Terutama dari segi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Paling terlihat, pabrik itu tidak memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Dari pantauan Malang Post, tidak terlihat alat-alat keselamatan kerja yang terstandar. Misalnya saja, APAR. Dalam hal Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), APAR merupakan peralatan wajib yang harus dilengkapi oleh setiap industri. Terutama dalam mencegah terjadinya kebakaran yang dapat mengancam keselamatan pekerja dan asset perusahaannya.
Terkait kelalaian pemilik gedung yang tidak menyediakan APAR, Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan menyebut laporan yang dia terima, menegaskan tidak ada peralatan keselamatan ketika terjadi kecelakaan kerja.
“Dari laporan pihak UPT Damkar Pemkot Malang, tidak ditemukan alat pemadam ringan, ini sudah satu kelalaian. Kita akan periksa kondisi bangunan, perizinannya, laporannya kepada pemerintah seperti apa. Unsur kelalaian akan diteliti di dalam gelar perkara,” urai Kapolres.
Ya, perlengkapan K3 merupakan hal wajib yang dimiliki pelaku usaha. Hal ini ditegaskan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang. Disnaker menyoroti soal Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang ada di pabrik maut tersebut.
Menurut Kabid Hubungan Industrial, Disnaker Kabupaten Malang, Achmad Rukmianto, pihaknya akan segera mengecek K3 dan segala perizinan di tempat itu.
“Terlepas dari lokasi kejadian ikut kota atau kabupaten, kami segera melakukan peninjauan di tempat tersebut, bersama pengawas K3 dari Provinsi,” terangnya.
Menurutnya, meski tempat tersebut hanya sebatas home industry, harus mengedepankan unsur K3.
“Untuk kriteria K3 home industry, tidak berbeda dengan industri besar pada umumnya. Namun, disesuaikan dengan jenis usaha atau industri yang dibuat. Seluruh home industry wajib menyediakan peralatan K3,” tegasnya.
Beberapa peralatan K3 itu disebutnya seperti tabung pemadam kebakaran alias APAR dan ruangan kerja harus sehat. Tidak boleh kotor dan harus memiliki ventilasi udara.
“Yang paling penting budaya mengutamakan K3. Saat ini, mayoritas industri, tidak hanya home industri, melainkan industri besar juga masih mengesampingkan K3,” urainya.
Selanjutnya, kata dia, yang dirugikan apabila mengesampingkan K3 ini, tidak hanya para pekerjanya. Melainkan pemilik usaha juga rugi.
“Seperti kejadian kebakaran ini, selain ada tewasnya para pekerja, pemilik usaha juga rugi tempatnya hancur. Belum lagi harus memberikan santunan kepada keluarga korban. K3 ini tidak hanya melindungi karyawan, juga melindungi pemilik industri itu sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, tim Laboratorium Forensik Polda Jatim melakukan olah TKP di pabrik maut milik Samuel, kemarin. Empat penyidik forensik Polda melakukan olah TKP selama kurang lebih tiga jam dan mengamankan beberapa barang bukti baru. Tim Labfor mengusung bukti alat kelistrikan, tak ada APAR.

Berita Terkait

Berita Lainnya :